IGN WIRATMAJA PUJA – Berburu ‘Big Fish’ di Hulu

Lili Sunardi – Rabu, 01/06/2016 08:35 WIB

kilang-minyak-di-cilacap-ant-idhad-zakariaKilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah

JAKARTA — Anjloknya harga minyak dunia membuat negara-negara berlomba melakukan terobosan agar industri minyak dan gas bumi tetap atraktif. Untuk mengetahui strategi pemerintah, Bisnis mewawancarai Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmadja Puja, belum lama ini. Berikut petikannya.

 

Apa yang menjadi fokus utama dari pengelolaan migas di Indonesia saat ini?

Di hulu migas, kami akan terus melakukan kegiatan eksplorasi, karena Indonesia sudah cukup lama tidak menemukan cadangan dalam jumlah besar. Kalau menggunakan business as usual atau aturan yang saat ini ada, tentu eksplorasi di Indonesia saat ini sudah kurang atraktif, makanya banyak investor yang lebih tertarik menanamkan modalnya di negara lain.

Kami juga terus mengantisipasi penurunan produksi alamiah dari sumur migas yang ada saat ini, karena secara rata-rata penurunan produksi alamiah atau natural decline mencapai 20%. Kami harus menjaga itu agar produksi migas tidak turun secara drastis, sehingga perlu melakukan banyak pengeboran sumur baru dan kegiatan lain untuk menjaga produksi.

Di lini midstream, keterbatasan infrastruktur masih menjadi masalah utama, makanya kami secara masif terus mengembangkannya, seperti membangun pipa, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), tangki penyimpanan, serta mengupayakan kilang untuk pengolahan.

Sementara itu, di hilir, kami memikirkan agar penyebaran dan harga bahan bakar minyak ini cukup fair di seluruh Indonesia. Persamaan margin di seluruh Indonesia membuat SPBU di wilayah Indonesia bagian timur tidak tumbuh dengan baik, karena minimnya konsumen dan jauhnya jarak permukiman.

 

Jika kegiatan eksplorasi belum atraktif, apa yang dilakukan pemerintah untuk menarik investor?

Kami menyiapkan insentif dan paket kebijakan untuk membuat kegiatan eksplorasi di Indonesia menjadi lebih atraktif. Salah satunya adalah perbedaan perlakuan untuk kegiatan di onshore dan offshore, serta laut dalam. Kami juga akan menjamin kemudahan bagi investor yang mau melakukan kegiatan eksplorasi di wilayah yang sangat terpencil. Ini semua sedang kami bahas.

Selain insentif fiskal, kami juga akan menawarkan dynamic split. Jadi porsi bagian untuk pemerintah dan investor tidak lagi kaku seperti saat ini. Pembagian porsi pemerintah dan investor nantinya akan disesuaikan dengan pendapatan dan biaya yang dikeluarkan.

Kalau pendapatannya dan harga minyak dunia sedang tinggi, bagian pemerintah tentu akan lebih banyak. Akan tetapi, kalau pendapatannya rendah dan harga minyak dunia sedang turun, maka bagian pemerintah ikut turun.

Kami juga akan menyatukan kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh kontraktor kontrak kerja sama yang memiliki lebih dari satu wilayah kerja. Dengan begitu, investor akan memperoleh kemudahan dalam mengurus perizinan.

 

Indonesia sudah lama tidak menemukan cadangan migas baru dalam jumlah besar, sehingga produksi terus turun. Apakah masih ada cadangan migas besar yang tersimpan di dalam negeri?

Indonesia dalam 15 tahun terakhir ini memang tidak menemukan cadangan migas dalam jumlah besar, karena tidak masifnya kegiatan eksplorasi di dalam negeri, sehingga produksi migas saat ini masih tergantung pada proyek besar yang sudah ada, seperti dari Lapangan Jangkrik dan Bangka.

Ke depan, kami juga masih mengejar produksi dari Indonesia deepwater development atau IDD, Blok Masela, dan Natuna D Alpha yang masih belum ekonomis untuk dikembangkan, karena besarnya kandungan CO2, sehingga membutuhkan teknologi yang mahal.

Memang kalau tidak dilakukan eksplorasi secara masif, tidak akan pernah ditemukan cadangan baru. Saat ini kan kelihatan sekali cadangan migas kita turun terus, tetapi nanti kalau dapat ‘big fish’, akan kembali naik secara signifikan. Dari para ahli geologi yang pernah saya temui dari luar dan dalam negeri, mereka sangat percaya masih ada cadangan migas dalam jumlah besar di Indonesia.

 

Di daerah mana saja cadangan migas dalam jumlah besar itu berada?

Menurut para ahli geologi dan berdasarkan bentuk cekungan yang ada, potensi adanya ‘big fish’ itu banyak, tetapi harus tetap dicari dan dibuktikan. Data cekungan yang ada, potensi ‘big fish’ itu masih ada di Indonesia bagian barat, seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan.

Selain itu, ada banyak potensi ‘big fish’ di Indonesia bagian timur juga, seperti sekitar Sulawesi, Papua dan laut dalam Maluku. Itu berdasarkan data cekungan yang ditafsirkan oleh ahli geologi, dan tetap perlu dibuktikan dengan eksplorasi.

 

Selama ini investor mengeluhkan minimnya data geologi dan seismik yang dimiliki pemerintah, sehingga eksplorasi memiliki risiko tinggi dan membutuhkan biaya lebih mahal. Bagaimana regulator menyikapi hal ini?

Untuk masalah data migas, yang akan kami lakukan adalah mengadaptasi apa yang pernah dilakukan oleh Norwegia. Negara itu sukses mendapatkan banyak ‘big fish’ setelah membuka data migasnya, sehingga cadangannya naik secara signifikan.

Dengan terbukanya data migas, maka para ahli di seluruh dunia dapat menelitinya, untuk melihat potensi yang ada di Indonesia, hingga akhirnya membawa investor masuk ke dalam negeri untuk melakukan studi lanjutan dan mengikuti lelang wilayah kerja migas.

Saat ini kami sedang menyiapkan Peraturan Menteri ESDM sebagai landasan hukum untuk membuka data itu. Saat ini, para ahli harus datang ke Ditjen Migas untuk mendapatkan datanya, karena kami masih menutup akses data tersebut.

Apakah kualitas data migas Indonesia sudah cukup baik untuk dipublikasikan dan digunakan oleh para peneliti?

Untuk kualitas data, paling tidak kan ada dulu. Ada data yang sangat baik sekali, tetapi sampai saat ini masih kami close. Ada juga data migas di beberapa daerah yang masih sangat kasar, bahkan belum ada datanya.

Hal tersebut yang menjadi alasan bagi kami untuk memburu agenda ke depan, agar Peraturan Menteri ESDM terkait dengan data migas dapat berlaku tahun ini.

Cara ini terbukti berhasil diterapkan oleh Norwegia, karena negara itu dalam beberapa tahun sudah memiliki cadangan migas yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

 

Pemerintah selama ini selalu memberikan insentif fiskal untuk mendorong investasi di dalam negeri. Apakah itu memang yang diinginkan oleh investor?

Kalau berdasarkan hasil diskusi kami dengan investor dan para ahli di Bali beberapa waktu lalu, memang yang paling banyak diminta adalah insentif fiskal. Kemudian adalah kemudahan perizinan, dan yang berikutnya adalah persoalan waktu dalam production sharing contract atau PSC.

Untuk persoalan waktu, saat ini kan 6 tahun dan dapat diperpanjang 4 tahun lagi untuk kegiatan eksplorasi. Supaya lebih menarik, kami berpikir untuk memperpanjang waktunya menjadi 10 tahun dan dapat diperpanjang 5 tahun lagi untuk kegiatan eksplorasi. Bahkan untuk kegiatan di laut dalam dan daerah terpencil, bisa saja lebih lama lagi.

Kami tidak memungkiri memang saat ini bagian pemerintah dari bagi hasil migas relatif tinggi kalau dibandingkan dengan negara lain. Hal itu kemudian membuat beberapa investor lebih tertarik untuk mengembangkan industri migas di negara lain.

Bahkan di Meksiko, bagian untuk investor itu sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan porsi negara, karena tingginya risiko dari kegiatan mereka dan besarnya modal yang harus disiapkan.

 

Apakah pemerintah tidak takut muncul resistensi, kalau bagian pemerintah dari PSC sedikit dikurangi?

Tentu akan ada pihak yang mempertanyakan, tetapi kembali lagi kepada tujuan utama adalah kami ingin mendapat ‘big fish’. Saya selalu menekankan untuk mencari win-win solution. Artinya, negara mendapat bagian yang bagus, tetapi proyek itu tetap dapat dikerjakan dengan baik.

Apalagi sekarang sudah ada benchmark dari yang berlaku di negara lain. Kalau kita terus ngotot untuk mendapatkan bagian yang selalu tinggi dari investor, tentu mereka akan memindahkan investasinya ke negara lain.

Hasil lelang wilayah kerja terakhir menunjukkan industri migas Indonesia masih belum atraktif, karena tidak laku. Investor saat ini sudah banyak yang beralih ke Vietnam, Myanmar, dan beberapa negara di Afrika.

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Source : bisnis.com