Hasil Pertemuan OPEC Meragukan, Harga Minyak Melemah

Bisnis.com, JAKARTA – Keraguan tentang rencana perpanjangan upaya pemangkasan suplai di antara eksportir minyak terbesar di dunia menekan harga minyak melemah pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB).

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari pada akhir perdagangan Rabu (29/11) ditutup turun 69 sen di US$57,30 per barel di New York Mercantile Exchange, level terendah sejak 21 November.

Adapun harga minyak Brent pengiriman Januari berakhir turun 50 sen di level US$63,11 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Harga minyak AS merosot 1,2% di New York seiring dengan terdengarnya perbedaan kabar yang mengacaukan persepsi atas apa yang mungkin muncul dari pertemuan OPEC di Wina hari ini waktu setempat.

Meskipun ada informasi bahwa kelompok tersebut telah mencapai konsensus, namun rincian mengenai waktu atau pelaksanaan perpanjangan upaya pembatasan pasokan belum diungkapkan.

“Pasar mengharapkan OPEC memperpanjang langkah pemangkasan mereka hingga sembilan bulan. Kesepakatan ini belum tuntas. Jika pemangkasan tidak diperpanjang, maka Anda mungkin akan melihat penurunan harga minyak,” kata Joseph Bozoyan, manajer portofolio Manulife Asset Management LLC di Boston.

Pada saat yang sama, investor juga menganalisa data dari Energy Information Administration (EIA) yang menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan pada stok minyak mentah AS, bahkan ketika pasokan bahan bakar utama yang dihasilkan oleh penyuling minyak mencatat kenaikan yang sangat besar.

“Penurunan stok minyak mentah AS adalah hal positif, namun persediaan bensin dan sulingan benar-benar meningkat pada tingkat yang cukup signifikan,” lanjut Bozoyan, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/11/2017).

Jumlah persediaan minyak mentah AS turun 3,43 juta barel pekan lalu, lebih besar dari perkiraan analis untuk penurunan sebesar 2,95 juta barel per barel, sedangkan pasokan di pusat jaringan Cushing, Oklahoma, tergelincir sebesar 2,91 juta barel, penurunan terbesar sejak September 2009.

Sementara itu, pasokan bensin naik 3,63 juta barel, kenaikan terbesar sejak Januari, dan stok minyak sulingan mencatat kenaikan sebesar 2,75 juta barel. Produksi minyak mentah pun naik ke rekor baru.

“Penurunan minyak mentah sedikit lebih baik daripada konsensus. Namun hal ini sedikit diimbangi oleh sisi produk olahan, dimana sulingan dan bensin naik,” ujar Brian Kessens dari Tortoise Capital Advisors LLC.

Source : bisnis.com