Harga Minyak WTI Naik ke Kisaran Level US$61 Per Barel

Harga Minyak WTI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) menetap di kisaran level US$61 per barel pada perdagangan Kamis (15/3/2018), setelah International Energy Agency memperingatkan adanya kekurangan pasokan minyak global yang akan terjadi.

Ini terjadi bahkan saat para pengebor minyak serpih AS mengangkat output ke level tertingginya.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2018 naik 23 sen dan berakhir di US$61,19 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan mencapai sekitar 20% di bawah rata-rata 100 hari.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Mei 2018 berakhir naik 23 sen di US$65,12 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London dan diperdagangkan di premium US$3,87 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, IEA menyatakan situasi buruk pada sektor minyak Venezuela dapat memperburuk perkiraan defisit pasokan di seluruh dunia pada akhir tahun ini. Padahal pada saat yang sama, produksi minyak mentah AS terus melonjak.

“Data pekan ini agak beragam. IEA berbicara tentang permintaan yang lebih tinggi. Arab Saudi berbicara tentang komitmen mereka terhadap pemangkasan produksi. Faktor penghambat akhirnya adalah pertumbuhan produksi minyak serpih,” ujar Rob Harworth di US Bank Wealth Management.

Minyak mentah telah melayang mendekati US$60 per barel sejak pertengahan Februari, namun belum mampu menahan kenaikan kuat di atas level tersebut, bahkan saat Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) berupaya mengurangi produksi sepanjang sisa tahun ini.

Sementara itu, awal pekan ini pihak kerajaan Arab Saudi menyatakan tetap berkomitmen pada tujuan OPEC untuk memulihkan persediaan ke level normalnya.

Namun, jumlah pengiriman OPEC akan meningkat 100.000 barel per hari dalam empat pekan sampai 31 Maret, menurut perusahaan pelacak tanki Oil Movements.

“Investor juga menunggu keputusan kebijakan Federal Reserve pekan depan dan lebih banyak kejelasan mengenai tarif impor China,” lanjut Haworth.

IEA menaikkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global pada 2018 sebesar 90.000 barel per hari menjadi 1,5 juta per hari, ditopang prospek yang lebih kuat untuk negara-negara ekonomi maju yang mengimbangi pelemahan ekspektasi bagi negara-negara berkembang.

Produksi minyak mentah AS melonjak menjadi 10,4 juta barel per hari pekan lalu, menurut data pemerintah AS.

“Ada banyak pertanyaan seputar di mana kita akan berada pada akhir tahun 2018 dalam hal pertumbuhan produksi AS,” ujar Brad Hunnewell, analis ekuitas senior di Rockefeller & Co. “Namun, Venezuela adalah pengimbang tak terduga untuk pertumbuhan produksi AS.”

Source : bisnis.com