Harga Minyak Tertekan, Emiten Masih Pesimistis

Rivki Maulana Selasa, 26/07/2016 10:35 WIB

130916_kapal-laut

JAKARTA — Sejumlah emiten pelayaran yang bergerak di bisnis sewa kapal penunjang lepas pantai atau offshore support vessel mengestimasi prospek usaha hingga akhir 2016 masih suram menyusul tren harga minyak dunia yang masih melandai.

Beberapa emiten mengaku hingga akhir tahun ini hanya akan mengandalkan kontrak yang sudah ada dan kontrak baru berdurasi pendek untuk menopang pendapatan. Mereka juga masih menjajakan armada yang masuk dalam daftar jual.

Sundap Carulli, Direktur Keuangan PT Logindo Samudramakmur Tbk., mengatakan perseroan baru mendapat tiga kontrak baru berdurasi maksimal satu tahun.

Dia menerangkan sebanyak satu armada harbour tug perseroan telah disewa oleh Pelindo dan Conoco Philips untuk jangka satu tahun. Di samping itu, dua unit hopper barge milik perseroan juga tengah mengerjakan proyek milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. di Kalimantan Selatan.

“Nilai kontraknya tidak terlalu signifikan, tapi setidaknya armada kami tidak idle,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (25/7).

Saat ini, kontrak yang digenggam emiten berkode saham LEAD ini mencapai US$95 juta, turun dari posisi Januari 2016 sebesar US$120 juta.  Menurut Sundap, industri jasa sewa kapal lepas pantai tengah tertekan menyusul pengurangan aktivitas eksplorasi migas sebagai dampak dari penurunan harga minyak.

Akibatnya, pelaku usaha mulai melakukan perang tarif demi mendapat kontrak sewa kapal dari perusahaan migas. Tak ayal, pendapatan perusahaan turut tertekan. Per 31 Maret 2016, pendapatan Logindo terkoreksi 23% menjadi US$10,52 juta

Berkat tambahan kontrak baru, Sundap menyebut perseroan  menghapus empat armada dari daftar jual. Sebelumnya, LEAD berencana melego 19 armada untuk mengencangkan ikat pinggang. Alhasil, kini tersisa 15 armada yang siap dilego.

Menurut Sundap, penjualan armada membuat Logindo berhemat US$437.000 karena menghentikan penyusutan sementara terhadap kapal-kapal tersebut.

Sementara itu, untuk kapal-kapal besar, Logindo juga memperpanjang masa penyusutan armada sehingga bisa menghemat biaya hingga US$2,2 juta. “Hingga saat ini kami terus menjajaki dengan potential buyer di dalam dan luar negeri,” ujarnya.

JUAL KAPAL

Nasib lebih beruntung menaungi PT Pelabuhan National Bina Buana Raya Tbk. Perusahaan bersandi saham BBRM itu telah menjual tujuh set kapal tongkang.

Loa Siong Bun, Chief Operating Officer Pelabuhan National Bina Buana Raya, mengatakan perseroan telah sepakat dengan pihak pembeli untuk melego armada tersebut. “Tapi ini belum serah terima semua, masih proses,” jelasnya kepada Bisnis, Senin (25/7).

Dia enggan menyebutkan nilai penjualan tujuh set kapal tongkang tersebut. Namun, sebelumnya dia mengatakan nilai penjualan tujuh set kapal tongkang diperkirakan sebesar Rp130 miliar.

Siong Bun mengimbuhkan berkat pengurangan armada kapal tongkang, utilisasi armada perseroan meningkat di atas 65% dari sebelumnya 50%. Namun, emiten berkode saham BBRM ini di sisi lain juga mencatat penurunan utilisasi kapal OSV menjadi di bawah 50%.

Hingga akhir tahun, Siong Bun menyebut prospek bisnis di industri pelayaran lepas pantai sangat menantang. “Market masih sangat keras, sementara kami ambil kontrak jangka pendek, dua bulan atau dua minggu pun kami ambil,” jelasnya.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2016, tahun ini BBRM baru meneken satu kontrak baru senilai US$9,63 juta dengan Megalift Sdn Bhd. Sementara itu, pendapatan BBRM terkoreksi 21% menjadi US$6,03 juta.

Kendati tengah menghadapi tekanan, Siong Bun menyebut perseroan belum akan melakukan diversifikasi bisnis. Dia masih yakin harga minyak dunia akan pulih pada pertengahan tahun depan sehingga turut menggairahkan kegiatan eksplorasi migas.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI masih bertengger di level US$43,89 per barel. Harga minyak dunia sempat jatuh ke level terendah sebesar US$26,55 per barel pada Januari 2016.

Sementara itu, PT Wintermar Offshore Marine Tbk. masih berniat melego armada untuk meningkatkan efisiensi. Sugiman Layanto, Direktur Utama  Wintermar, sebelumnya mengatakan penjualan kapal perlu dilakukan untuk  menghemat biaya karyawan dan bahan bakar.

Emiten berkode saham WINS ini akan menjual kapal-kapal dari segmen low tier agar fokus menggenjot penggunaan kapal-kapal di segmen high tier yang memberikan margin lebih tebal.

Sugiman menyebutkan tingkat utilisasi armada diharapkan bisa naik di atas 57% hingga akhir 2016. Per 31 Maret 2016, utilisasi armada Wintermar tercatat 57%, naik dibandingkan posisi 31 Desember 2015 sebesar 53%.

Source : bisnis.com