Harga Minyak Stabil dari Pengaruh Irak dan AS

Harga Minyak Stabil dari Pengaruh Irak dan AS

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak mentah dunia ditutup stabil pada awal perdagangan pekan ini, Senin (23/10). Pemicunya, berkurangnya ekspor minyak dari Irak dan perlambatan pengeboran di Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent tipis US$0,38 per barel atau sekitar 0,65 persen menjadi US$57,75 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik tipis US$0,06 per barel atau 0,11 persen sekitar US$51,96 per barel.

Sementara itu, data pengiriman dan sumber industri mencatat, ekspor minyak Irak selatan turun sekitar 110 ribu barel per hari. Adapun jumlah ini terus menurun lantaran terbatasnya akses produksi ke ladang minyak Irak di Kota Kirkuk, tepatnya sejak sentimen referendum kemerdekaan Kurdistan mencuat pada bulan lalu.

Lihat juga : Jonan Minta Motor Listrik GESITS Patok Harga yang Bersaing

Biasanya ekspor minyak Irak dari kawasan itu yang dialirkan melalui pipa langsung ke Pelabuhan Ceyhan, Turki bisa mencapai 600 ribu barel per hari. Namun, belakangan terus menurun, dengan kisaran hanya 255 ribu barel per hari. Selanjutnya, pada Senin kemarin sudah ada peningkatan tipis menjadi 288 ribu barel per hari.

Kabar terakhir, Sekretaris Negara AS Rex Tillerson ikut mendesak pemerintahan Irak agar segera menyelesaikan konflik di Kurdistan melalui dialog antar kedua belah pihak.

Sedangkan dari AS, jumlah pengeboran turun sekitar 7 titik menjadi hanya 736 titik dalam sepekan terakhir. Ini merupakan yang terendah sejak Juni lalu.

Beberapa analis menilai, penurunan pengeboran minyak AS lantaran mendapat sentimen dari ancaman badai yang membayangi Negeri Paman Sam pada beberapa waktu lalu.

“Namun, pengeboran ini belum membuat optimisme terhadap perkiraan sebagian besar pertumbuhan produksi AS pada tahun depan,” ujar Standard Chartered dalam keterangan tertulis.

Kendati begitu, pelaku pasar lebih memilih menunggu data resmi dari Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dan Institusi Minyak AS (American Petroleum Institute/API) yang akan rilis pekan ini. Meski, persediaan minyak mentah cenderung turun dalam beberapa pekan terakhir.

Lihat juga : Indonesia Wajib Publikasikan Data Lengkap Investor Tambang

Di sisi lain, Kepala Riset Komoditas Landesbank Baden-Wuerttemberg Frank Schallenberger memperkirakan, harga minyak dunia akan mencapai level tertinggi pada akhir Oktober ini. Sebab, ada beberapa sentimen yang berpengaruh secara jangka pendek pada kenaikan harga minyak mentah dunia.

Misalnya, komitmen pembatasan produksi oleh Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan Rusia, meningkatnya permintaan global, berkurangnya pengeboran AS, dan ketersediaan pasokan minyak dunia.

“Saya tidak akan terkejut melihat WTI naik menjadi US$55 per barel dan Brent menjadi US$60 per barel sebelum awal November,” pungkasnya. (lav)

Source : cnnindonesia.com