Harga Minyak Rendah, Bisakah Blok East Natuna Dikembangkan?

Michael Agustinus – detikfinance
Kamis, 14/07/2016 09:20 WIB
36249c92-e1be-4dd2-abc6-d150df12f191_169
Jakarta -Di bagian timur perairan Natuna ada ladang gas terbesar di Indonesia, yaitu Blok East Natuna. Cadangan gas di East Natuna menurut perkiraan paling rendah mencapai 29 triliun kaki kubik (TCF), paling besar 57 TCF, dan perkiraan moderat 46 TCF.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin potensi ini segera dikembangkan untuk menegaskan kedaulatan Indonesia di wilayah Natuna. Perairan Natuna diklaim oleh China sebagai wilayah penangkapan tradisional nelayan mereka. Dengan argumen ini, China membela nelayan-nelayannya yang mencuri ikan dan melanggar kedaulatan Indonesia.

Tetapi tak mudah untuk mengembangkan Blok East Natuna. Saat ini konsorsium yang terdiri dari PT Pertamina (Persero), Exxon Mobil, dan PTT EP masih melakukan studi mencari cara paling tepat dan ekonomis untuk mengembangkannya.

Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, mengakui butuh biaya investasi yang besar untuk mengambil gas dari Blok East Natuna. Sebenarnya produksi gas dari blok ini bisa saja tetap ekonomis bagi investor dengan kondisi harga minyak rendah seperti sekarang.

Tapi, aturan bagi hasil yang sekarang berlaku, yaitu 85% untuk negara dan 15% untuk investor, harus diubah. Bagian negara harus dikurangi agar menguntungkan bagi investor yang menjadi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).

Selain itu, investor harus diberi insentif-insentif, misalnya tax holiday, supaya untung. Kalau bagian negara tetap seperti biasa dan tidak ada insentif, maka pengembangan Blok East Natuna harus menunggu sampai harga minyak tinggi.

“Untuk mematok IRR yang ekonomis, bisa saja harga kayak sekarang tapi split pemerintah turun. Atau nunggu harga naik dulu. Atau tax holiday-nya diperbesar,” kata Wiratmaja kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (13/7/2016).

Tapi masalah keekonomian lapangan baru salah satu tantangan, ada berbagai tantangan lain. Infrastruktur di Natuna masih buruk. Blok East Natuna yang terletak di laut dalam tentu tak mudah untuk dikelola. Kemudian gas East Natuna mengandung CO2 hingga 72%.

Sampai saat ini masih dicari teknologi untuk pemisahan CO2 yang sangat tinggi itu dan menginjeksinya lagi supaya tidak mencemari udara. Belum pernah ada perusahaan yang pernah memisahkan kandungan CO2 sebesar itu.

Blok East Natuna juga tempatnya kurang strategis, jauh dari pasarnya. Tentu dengan kondisi seperti itu, butuh biaya investasi yang sangat besar untuk mengembangkan Blok East Natuna.

Wiratmaja menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya mempercepat dan mencari solusi untuk pengembangan Blok East Natuna sebagaimana diinstruksikan oleh Presiden Jokowi baru-baru ini.

Source : detik.com