Harga Minyak Mentah Dikerek Kenaikan Permintaan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia rebound dan berakhir positif pada perdagangan Rabu (14/3/2018), saat tanda-tanda permintaan bahan bakar yang lebih kuat mengimbangi lonjakan suplai minyak Amerika Serikat (AS).

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2018 naik 25 sen dan berakhir di US$60,96 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Mei 2018 berakhir naik 25 sen di US$64,89 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London dan diperdagangkan di premium US$3,87 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, harga minyak sebelumnya turun setelah OPEC menggarisbawahi kekuatan pada produksi AS dan sebuah laporan pemerintah menunjukkan jumlah persediaan minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan.

Di sisi lain, stok bensin mencatatkan penurunan terbesar sejak September dan total persediaan minyak mentah dan produk, termasuk cadangan strategis turun 4,53 juta barel. Total permintaan produk adalah yang tertinggi sejak Januari.

”Kita melihat permintaan yang kuat dan peningkatan ekspor, kita melihat banyak hal,” kata Michael Loewen, pakar strategi komoditas Scotiabank di Toronto, seperti dikutip Bloomberg. “Satu-satunya alasan [harga minyak] tidak naik lebih banyak adalah laporan pasar minyak OPEC yang lebih bearish pagi ini.”

Minyak mentah telah berjuang sejak mencapai level tertinggi tiga tahun pada bulan Januari. Pelemahan pasar finansial global pada awalnya mendorong harga turun, sementara lonjakan produksi minyak AS serta meningkatnya persediaan tetap menjadi tantangan.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengakui skala lonjakan minyak serpih, serta memperkirakan untuk pertama kalinya bahwa pertumbuhan pasokan dari produsen-produsen saingan akan melampaui kenaikan permintaan tahun ini.

Produksi minyak AS terus memicu kekhawatiran pasar. Jumlah produksi naik 12.000 barel menjadi 10,381 juta barel per hari pekan lalu, data mingguan tertinggi sejak 1983, menurut Energy Information Administration. Produksi diperkirakan mencapai 11 juta barel per hari pada akhir 2018.

Namun, besarnya penurunan pada produk-produk minyak pekan lalu mendorong kenaikan harga pada hari Rabu. Stok bensin turun 6,27 juta barel menjadi 244,8 juta, laporan EIA menunjukkan.

Persediaan minyak sulingan turun 4,36 juta barel ke level terendah sejak Desember, sedangkan harga bensin April naik 2% menjadi US$1,9243 per galon.

Harga juga mendapatkan dukungan dari pemecatan Rex Tillerson sebagai Menteri Luar Negeri AS. Langkah tersebut dapat berimplikasi pada sanksi AS terhadap Iran, yang dapat mempengaruhi industri dan ekspor minyak, menurut Facts Global Energy and Royal Bank of Canada.

“Risikonya sekarang jauh lebih tinggi sehingga Presiden Trump tidak akan mengenyampingkan sanksi ketika tiba waktunya pada bulan Mei, sehingga menggagalkan kesepakatan tersebut, “ kata Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB AB.

Source : bisnis.com