Harga Minyak Dunia Tergelincir usai Dekati Level Puncak

Harga Minyak Dunia Tergelincir usai Dekati Level PuncakHarga minyak dunia tergelincir 0,9 persen pada perdagangan Rabu (27/12) waktu Amerika Serikat (AS), setelah sempat mendekati level tertinggi kemarin. (Ilustrasi/REUTERS/Edgar Su).

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia tergelincir pada perdagangan Rabu (27/12) waktu Amerika Serikat (AS). Padahal, sehari sebelumnya, harga minyak sempat mendekati level tertinggi dalam dua setengah tahun terakhir yang disebabkan oleh gangguan pada pipa minyak Libya dan Laut Utara.

Dilansir dari Reuters, Kamis (28/12), harga minyak mentah berjangka Brent merosot 0,9 persen atau US$0,58 menjadi US$66,44 per barel. Penurunan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) yang terseret US$0,33 atau 0,6 persen menjadi US$59,64 per barel.

Kemarin, harga Brent sempat menyentuh angka US$67 per barel untuk pertama kalinya sejak Juni 2015. harga WTI juga sempat di atas US$60 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2015.

Lihat juga:Sri Mulyani Bakal Hitung Utang Subsidi ke Pertamina dan PLN

“Pasar terus tertarik pada pemberitaan yang bersifat mendongkrak harga (bullish) namun hari ini [Rabu, (27/12)] kami melihat sedikit aksi ambil untung,” ujar Gene McGillian, Manajer Riset Pasar Tradition Energi di Stamford, Connecticut.

Pada Selasa lalu, Libya kehilangan pasokan minyak mentah sekitar 90 ribu barel per hari (bph) pasca ledakan yang terjadi pada pipa pengumpan di pelabuhan minyak Es Sider. Berdasarkan informasi Kepala perusahaan minyak pelat merah Libya kepada Reuters kemarin, upaya perbaikan dapat memakan watu seminggu namun tidak akan berdampak besar pada ekspor,

Dalam catatannya kepada klien, Analis RBC Capital Markerts Helima Croft menyatakan, kerusuhan politik sebelum pemilihan umum tingkal nasional dapat mengganggu produksi minyak Libya lebih jauh lagi.

Gangguan penawaran lain yang terjadi pada beberapa minggu terakhir termasuk gangguan pada pipa minyak terbesar Forties milik Inggris.
Rabu lalu, Forties telah beroperasi separuh dari kapasitas normal. Operator telah menyatakan operasional bakal kembali ke kapasitas normal pada awal Januari.

Secara total, gangguan yang terjadi pada pipa minyak Forties dan Libya berdampak pada sekitar 500 ribu bph minyak yang diangkut, jumlah yang relatif kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan pasar global yang sekitar 100 juta bph.

“Meskipun dampak ke pasokan tidak signifikan, ini menunjukkan bahwa situasi kekurangan pasokan menimbulkan risiko geopolitik sekarang kembali muncul sebagai faktor yang penting pada dinamika perdagangan harian,” ujar analis Tudor Pickering Holt Energi Research dalam catatannya.

Persediaan minyak dunia mengetat akibat kesepakatan pemangkasan produksi minyak yang dilakukan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan non-OPEC, termasuk Rusia.

Lihat juga:Jonan Tagih ‘Utang’ Sri Mulyani Rp50 T ke Pertamina dan PLN

Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi AS (EIA), pasar minyak global secara bertahap menuju keseimbangan pada 2016 dan mulai sedikit menunjukkan defisit penawaran tahun ini. Bahkan, untuk kuartal I 2018, pasokan diperkirakan kurang (shortfall) sebesar 180 ribu bph.

Sementara itu, produksi minyak AS telah meningkat 1 persen sejak pertengahan 2016 dan mendekati level 10 juta per barel. Kenaikan produksi minyak AS ini membatasi upaya OPEC dan Rusia untuk mendongkrak harga minyak dunia. (lav)

Source : cnnindonesia.com