Harga Minyak Dunia Naik Tipis Terombang-ambing Data Stok AS

Harga Minyak Dunia Naik Tipis Terombang-ambing Data Stok ASHarga minyak mentah berjangka Brent naik menjadi US$64,89 per barel, sedangkan harga minyak mentah berjangka AS (WTI) naik menjadi US$60,96 per barel.

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak mentah dunia menanjak tipis pada perdagangan Rabu (14/3) setelah mengalami turbulensi selama sesi perdagangan. Kenaikan stok minyak AS yang lebih besar dari ekspektasi mampu diimbangi oleh penarikan besar persediaan bensin dan minyak distilisasi.

Dilansir dari Reuters (15/3), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,25 atau 0,4 persen menjadi US$64,89 per barel. Kenaikan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,25 menjadi US$60,96 per barel.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan persediaan minyak mentah AS melonjak lima juta barel, lonjakan terbesar sejak Januari 2018. Realisasi tersebut jauh di atas perkiraan yang hanya sebesar dua juta barel. Di saat bersamaan, persediaan bahan bakar minyak berkurang lebih besar dibandingkan ekspektasi.

“Kami tidak menekan sisi bawah terlalu banyak. Alasannya, tentu saja karena pasar mengalami penarikan besar di luar perkiraan pada persediaan bensin dan minyak distilasi, yang kalau dijumlahkan penarikan tersebut dua kali lebih besar dibandingkan kenaikan persediaan minyak mentah,” ujar Direktur Energi Berjangka Bob Yawger.

Lihat juga:2018-2027: Pemerintah Pangkas Proyeksi Kebutuhan Listrik

Manajer Riset Pasar Tradition Energi Gene McGillian menilai laporan tingkat persediaan yang dirilis EIA tidak memberikan gambaran yang cukup besar terkait kondisi keseimbangan pasar.

“Saya tidak berpikir bahwa pasar memiliki arah yang jelas dan saya tidak berpikir bahwa laporan (EIA) ini memberikan banyak gambaran apakah upaya menyeimbangkan kembali pasar akan berlanjut atau tidak,” ujar McGillian.

Harga minyak tertekan pasca Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan dalam laporan bulanannya bahwa pasokan negara yang bukan anggotanya kemungkinan akan tumbuh sebesar 1,66 juta barel per hari (bph) pada 2018, hampir dua kali lipat dari prediksi pertumbuhan yang dibuat di November 2017. Kenaikan pasokan itu sebagian besar disebabkan oleh kenaikan pasokan AS.

Kartel OPEC juga menyatakan bahwa persediaan minyak mentah milik sebagian besar negara industri naik pada Januari lalu untuk pertama kalinya sejak delapan bulan. Hal ini menandakan efek dari kebijakan pemangkasan produksi kemungkinan memudar. OPEC juga memangkas proyeksi permintaan atas minyak mentah produksinya sebesar 250 bph menjadi 32,61 juta bph, penurunan untuk keeempat kalinya secara berturut-turut.

Lihat juga:Harga Gas Aljazair Cuma US$1, Enam Kali Lebih Murah dari RI

“Berdasarkan laporan OPEC, permintaan minyak mentah produksi OPEC harus mencapai 33 juta bph selama sisa tahun ini untuk menyingkirkan seluruh kelebihan pasokan,” ujar ahli strategi Commerzbank Carsten Fritsch.

Di sisi lain, harga minyak terdongkrak di awal perdagangan oleh dorongan investor yang lebih luas di sektor komoditas. Hal ini terjadi setelah data produksi China menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi di atas ekspektasi untuk dua bulan pertama tahun ini. Sebagai catatan, China merupakan importir bahan mentah terbesar di dunia.

Harga minyak juga akan mendapat dorongan dari permintaan musiman dalam waktu dekat.

“Kami sekarang hanya dua hingga empat minggu dari waktu data persediaan mingguan bakal mulai berkurang lagi, yang seharusnya akan mendukung harga minyak,” ujar Ahli Strategi Komoditas SEB Bjarne Schieldrop. (agi)

Source : cnnindonesia.com