Harga Minyak Didorong Aksi Spekulatif

Ilustrasi

JAKARTA – Memanasnya harga minyak mentah akibat serangan misil Amerika Serikat ke Suriah dianggap sebagai aksi spekulatif. Pasalnya, kejadian tersebut belum memengaruhi sisi fundamental pasar.

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/4), harga minyak WTI kontrak Mei 2017 memanas 0,54 poin atau 1,04% menuju US$52,24 per barel. Adapun harga minyak Brent kontrak Juni 2017 meningkat 0,35 poin atau 0,64% menjadi US$55,24 per barel.

Carl Larry, oil & gas consultant Frost and Sullivan, menyampaikan tindakan AS yang menyerang Suriah meningkatkan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Sentimen tersebut meningkatkan permintaan minyak mentah berjangka.

Seperti diketahui, pada Kamis (6/4) malam waktu setempat, AS meluncurkan 59 rudal Tomahawk cruise dengan target pangkalan udara Suriah. Langkah Paman Sam yang diinisiasi oleh Presiden Donald Trump bertujuan memberikan efek jera karena AS menganggap Pemerintah Suriah meluncurkan senjata kimia yang menewaskan 80 korban.

“Ada kekhawatiran konflik bisa menyebar ke wilayah yang kaya minyak, sehingga permintaan meningkat,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Minggu (9/4).

Sentimen risiko geopolitik Suriah membuat pasar mengabaikan penambahan produksi minyak AS. Menurut data Baker Hughes, pada pekan yang berakhir Jumat (7/3), jumlah rig minyak bertambah 10 buah menjadi 672 rig.

Ini menandakan jumlah rig terus bertambah dalam 12 pekan berturut-turut sekaligus mencatatkan level tertinggi sejak September 2015. Padahal pada kuartal I/2016, jumlah rig minyak yang aktif hanya mencapai 362 buah.

Larry menambahkan, dalam waktu dekat pasar juga tertuju kepada laporan data produksi Venezuela. Pasalnya, data produksi negara tersebut disangsikan oleh pasar keabsahannya.

“Venezuela bisa mengatakan mereka memompa 1,5 juta barel per hari, tetapi kemudian tidak terjadi apa-apa. Ini berakibat negatif karena harga bisa melonjak tiba-tiba,” paparnya.

Hamza Khan, head of commodities strategy perusahaan finansial ING., mengatakan meskipun Suriah bukanlah produsen minyak utama, efek dari membesarnya konflik cukup mencemaskan pasar. Pasalnya, lokasinya yang berada di Timur Tengah berada di dekat para produsen minyak mentah raksasa.

Namun demikian, sambungnya, masih terlalu dini untuk menilai faktor risiko geopolitik Suriah sebagai pendorong harga minyak dari sisi fundamental. Sentimen tersebut lebih kepada spekulasi pasar yang melakukan antisipasi awal.

“Ini hanya menjadi langkah spekulatif, karena tidak ada dasar yang mendukung kenaikan harga,” tegasnya.

Sementara

Deddy Yusuf Siregar, analis Asia Tradepoint Futures, mengatakan dampak serangan AS ke Suriah hanya bersifat sementara terhadap harga minyak. Pasar tetap melihat landasan fundamental harga, yakni peningkatan produksi AS dan rencana perpanjangan pemangkasan suplai OPEC.

“Hal utama yang dinantikan pasar adalah produksi minyak AS dan pemangkasan produksi OPEC. Ini tetap menjadi landasan fundamental,” tuturnya saat dihubungi, Minggu (9/4).

Mengutip data U.S. Energy Information Administration (EIA), stok minyak AS dalam sepekan yang berakhir Jumat (31/) meningkat 1,56 juta barel menjadi 535,54 juta barel. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak EIA melakukan pencatatan pada Agustus 1982.

Dalam waktu yang sama, tingkat produksi minyak AS naik 52.000 barel menuju 9,2 juta barel per hari (bph), yang menjadi level tertinggi sejak Januari 2016. Sebelumnya pada Desember 2016, AS konsisten menahan produksi di level 8,7 juta bph.

Selain itu, sambung Deddy, pasar terbebani oleh Irak yang berencana menaikkan produksinya pada 2017 menjadi 5 juta barel per hari (bph). Sebelumnya, Irak melakukan penambangan sejumlah 4,6 juta – 4,7 juta bph.

Tindakan Irak bisa mengganggu rencana OPEC untuk menstabilkan harga minyak mentah. Organisasi sebelumnya merencanakan memangkas suplai sebesar 1,2 juta bph menjadi 32,5 juta bph pada Januari-Juni 2017.

Bahkan, saat perjanjian belum selesai, OPEC berencana memperpanjang pemangkasan produksi pada paruh kedua 2017. Kesepakatan lanjutan ini akan diputuskan dalam rapat para menteri negara anggota OPEC pada 25 Mei 2017 di Wina, Austria.

“Pasar menantikan sejauh mana rencana Irak bisa mengganggu rencana anggota OPEC lainnya. Sejauh ini faktor OPEC dan AS masih menjadi agenda utama,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, pasar kembali tertekan oleh proyeksi penambahan suplai dari AS. Data Baker Hughes menyebutkan rig pengeboran oil bertambah 10 unit menjadi 672 unit rig.

Deddy memprediksi, dengan melihat berbagai sentimen yang ada, harga minyak pada pekan ini berpotensi mengalami pelemahan. Harga sepekan direpdiksi bergerak di dalam rentang US$49-US$53 per barel.

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Source : bisnis.com