Harga Minyak Bangkit Setelah Meredup Sepekan Terakhir

Harga Minyak Bangkit Setelah Meredup Sepekan TerakhirPenguatan harga minyak didorong oleh pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang lainnya setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga acuannya. (REUTERS/Stringer).

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia kembali merangkak setelah persediaan minyak Amerika Serikat (AS) menyusut secara tak terduga dan laporan dari International Energy Agency (IEA) menyebut bahwa pemangkasan produksi organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) mengakibatkan defisit persediaan minyak di semester I 2017.

Dikutip dari Reuters, Rabu (15/3) waktu setempat, data Energy Information Administration (EIA) AS menunjukkan persediaan minyak mentah AS menurun 237 ribu barel pada pekan lalu. Padahal, analis sebelumnya memperkirakan, persediaan minyak bisa meningkat 3,7 juta barel.

IEA mengungkapkan bahwa persediaan global pada Januari 2017 meningkat, meski OPEC membuat kebijakan pengurangan produksi. Namun, harga minyak disokong oleh laporan bulanan yang menyebutkan pasar akan defisit persediaan minyak 500 ribu barel per hari di paruh pertama tahun ini jika OPEC tetap setia menjalankan janjinya.

Sebagai informasi, OPEC sepakat memangkas 1,2 juta barel per hari sepanjang semester I 2017, sementara negara non-OPEC akan memangkas 600 ribu barel per hari di periode yang sama.

Selain sentimen tersebut, penguatan harga minyak juga didorong oleh pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang lainnya setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan. Pelemahan nilai mata uang negeri Paman Sam membuat harga minyak dengan denominasi dolar AS lebih murah dibandingkan lainnya.

Hasilnya, harga Brent berjangka LCOc1 meningkat US$0,89 per barel ke angka US$51,81 per barel. Di sisi lain, harga West Texas Intermediate (WTI) CLc1 meningkat US$1,14 per barel ke angka US$48,86 per barel.

Meski realisasi kebijakan OPEC terbilang tinggi, namun meroketnya persediaan minyak tak terbendung. Ini disebabkan karena dua alasan. Pertama, anggota OPEC telah menggenjot produksi sebelum pembatasan produksi dilakukan. Kedua, produksi minyak non-konvensional AS ikut meningkatkan produksinya. (bir)

Source : cnnindonesia.com