Harga Gas RI Mahal, Dewan Energi: Banyak yang Main

Ardan Adhi Chandra – detikfinance
Minggu, 04/09/2016 18:29 WIB
gIlustrasi (Foto: Gas)
Jakarta -Harga gas di Indonesia terpantau sangat tinggi. Jauh melebihi Singapura yang tidak punya kekayaan alam berupa gas alam.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Syamsir Abduh mengatakan, kondisi ini disebabkan oleh banyaknya pihak yang terlibat dalam rangkaian rantai distribusi.

Ia menyebut, gas dari produsen harus melewati 5 lapis ‘pemain’ yang memperpanjang rantai distribusi dan berakibat harga gas di Indonesia melambung sangat tinggi.

“Kita bayangkan dari gas keluar sekitar US$ 4-5 per MMbtu, sampai ke industrinya itu sudah sampai US$ 9-10 MMbtu. Karena terlalu banyak pemain. Itu ada transporter, ada distributor, itu rantainya panjang sekali. Lapisan itu bisa 4 sampai 5,” beber dia ditemui di Hall Dewan Pers, Jakarta Pusat, Minggu (4/9/2016).

Banyaknya pemain yang terlibat dalam rantai distribusi gas di Indonesia ini, menurutnya tak lepas dari terlalu bebasnya regulasi perdagangan gas di Indonesia sejak tahun 2001.

“Nah itu dulu sebelum ada UU No. 22 Tahun 2001, itu Pertamina jalankan langsung ke industrinya. Ketika diubah undang-undangnya kan monopoli alamiah dikompetisikan. Jadi terlalu liberal (terlalu bebas),” tutur dia.

Di saat seperti ini, menurutnya, campur tangan pemerintah sangat diperlukan. Pemerintah harus bisa bertindak sebagai pengendali pasar di industri gas karena sektor ini merupakan sektor inti. Yang menurut amanah undang-undang memang harus dikendalikan pemerintah.

“Nah itu maksud saya bagaimana leadership-nya (kepemimpinannya) di situ, yang powerful (yang punya hak mengendalikan) di situ. Harus tetap dikendalikan. Ada market operator. Kalau orang keluar jalur (melanggar aturan) samperin (datangi),” tegas dia.

Kondisi ini sempat dikeluhkan oleh pelaku industri tekstil yang harus membeli gas sampai US$ 12/MMbtu. Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ernovian G Ismy, menuturkan biasanya pengusaha tekstil harus membeli gas dari trader.

Panjangnya rantai pasokan gas dari sumbernya hingga sampai ke industri inilah yang membuat harganya jadi mahal.

Ernov mengungkapkan, ada biaya-biaya tambahan yang dikenakan oleh trader. Ini membuat harga gas jadi tinggi sekali. “Jadi biasanya selain harga gas ada tambahan-tambahan biaya lain,” ucapnya.

Mahalnya harga gas ini membuat industri tekstil Indonesia sulit bersaing dengan industri tekstil di negara-negara tetangga. Dari komponen biaya energi saja, Indonesia sudah kalah efisien sampai 50% atau lebih.(dna/dna)

Source : detik.com