GAS MAHAL GANJAL KONVERSI

Saat ini harga jual BBG untuk transportasi Rp.3.100 per liter setara premium (lsp) di bawah harga keekonomian sebesar Rp.4.500 per lsp.

Mahalnya harga jual gas bumi dari produsen (sektor hulu) membuat program konversi bahan bakar minyak (BBM) dan gasifikasi energi tidak bisa diakselerasi. Lebih jauh, hal ini mempengaruhi biaya pengembangan infrastruktur transmisi dan distribusi hingga menambah beban harga jual produk yang harus ditanggung konsumen.

“Apabila harga jual gas upstream turun, proyek jaringan gas kota (jargas) akan lebih efisien. Tidak hanya bagi pengelola seperti Pertamina dan PGN, tetapi juga konsumen,”ujar Direktur Utama PT Pertamina Gas (Pertagas) Hendra Jaya di Prabumulih, Sumatera Selatan, Senin (21/3).

Di proyek infrastruktur jargas, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang menjamin alokasi gas bumi menetapkan harga US$4,72 per juta british thermal unit (mmbtu) untuk harga di well-head (kepala sumur). Harga itu berlaku tetap sesuai dengan perjanjian.

Selanjutnya, lanjut Hendra, hal itu akan mendorong penurunan harga jual gas bumi ke pelanggan jargas.

Sesuai dengan peraturan Badan Pengaturan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), harga jual gas bumi di Prabumulih golongan rumah tangga atau RT-1 maksimal Rp.4.500 per meter kubik dan RT-2 sebesar Rp.6.750 per meter kubik. Kemudian untuk pelanggan kecil (PK)-1 Rp.4.500 per meter kubik dan PK-2 sebesar Rp.6.750 per meter kubik. “Akan lebih baik jika sambungan rumah (SR) yang terpasang volumenya lebih besar. Kalau volumenya hanya 4.000 SK akan sulit karena manajemennya sama dengan yang puluhan ribu,”jelasnya.

Subsidi CNG

Pengaruh penurunan harga juga bakal dirasakan konsumen gas alam terkompresi (CNG) sebagai bahan baku bakar gas (BBG) transportasi. Produsen CNG seperti PT Gagas Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara (persero) Tbk, harus menyubsidi selisih harga beli gas dari hulu dengan harga jual kepada konsumen.

“Harga gas di hulu untuk industri US$9,2 per mmbtu. Untuk CNG kami jual US$6,05 per mmbtu. PGN menyubsidi itu karena penggunaan BBG belum besar. Kalau sudah masif, kita minta itu disubsidi pemerintah,” ucap Strategic Manager Gagas Energi Indonesia Novi Muharam dalam sebuah diskusi di Jakarta, kemarin.

Saat ini harga jual BBG ke konsumen Rp.3.100 per liter setara premium (lsp) di bawah harga keekonomian sebesar Rp.4.500 per lsp. Meski demikian, pihaknya akan melanjutkan pembangunan 10 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di Jakarta, Surabaya, Sidoardjo, Bogor, Pasuruan, Probolinggo, dan Sumatera Selatan berkapasitas rata-rata 1 mmscfd (juta kaki kubik per hari).

Senada, Presiden Direktur PT Pertagas Niaga Jugi Prajogio menyatakan, dengan harga gas hulu dari Pertamina US$4,72 per mmbtu, harga BBG itu sudah tidak rasional.”Harga akan ekonomis bila harga gas hulu sekitar US$3 per mmbtu, toll fee dari BPH Migas rasional, SPBU bisa melakukan pengisian BBG atau pemerintah meanggarkan penambahan mobile refueling unit (MRU).

jessica@mediaindonesia.com

Source : Media Indonesia – 23 Maret 2016