Gas Alam Blok Mahakam untuk Indonesia

Rabu 28 Sep 2016, 00:00 WIB

19Anjungan Jempang Metulang (JM1), di Lapangan South Mahakam yang beroperasi pada 2015 merupakan bagian dari proyek pengembangan agar dapat meningkatkan dan mempertahankan tingkat produksi gas maupun likuid berupa minyak dan kondensat di Blok Mahakam.

Jakarta – Produksi gas alam dari Blok Mahakam sebagai salah satu kontribusi nyata Total E&P Indonesie bagi Indonesia.

Blok Mahakam di Kalimantan Timur, yang dioperasikan oleh Total E&P Indonesie (TEPI), di tahun 2015 mampu memproduksi gas hingga rata-rata 1,7 milyar standar kaki kubik per hari dan likuid yang terdiri dari minyak dan kondensat sebesar 69.000 barel per hari. Saat ini, TEPI masih mampu berkontribusi 22% dari produksi gas nasional. Hasil ini diperoleh melalui kerja keras terus menerus yang dilakukan TEPI sejak 1968 silam. “Produksi sebesar itu dapat dicapai berkat kerja keras kami mengelola sumur-sumur di lapangan yang mature. Perlu upaya ekstra untuk menjaga integritas sumur-sumur, supaya tetap dapat beroperasi secara optimum dan aman,” ungkap Hardy Pramono, President & General Manager TEPI.

Sejak 1990an, produksi gas dari Blok Mahakam meningkat hingga mengalami puncaknya pada 2005-2007. Gas alam ini diproduksi dari beberapa lapangan migas di Blok Mahakam, yaitu Lapangan Tunu, Tambora, Peciko, Sisi Nubi, South Mahakam, Bekapai (minyak dan gas), dan Handil (minyak dan gas).

Terapkan Inovasi dan Teknologi

Meski saat ini sebagian besar lapangan di Blok Mahakam sudah mature atau berusia tua, TEPI tetap berusaha keras merawat lapangan-lapangan tersebut dengan menerapkan berbagai inovasi teknologi terkini untuk menjaga tingkat produksi. TEPI dan Inpex Corp, dengan dukungan SKK Migas, telah menginvestasikan modal lebih dari US$ 34 miliar (1967 – 2015) untuk mengembangkan Blok Mahakam. “Tidak mudah mengelola lapangan yang sudah mature. Banyak tantangan yang dihadapi,seperti tekanan reservoirnya yang menurun dan air yang ikut terproduksi. Belum lagi 25% dari reservoir di Mahakam berupa pasir yang tidak terkonsolidasi, membuatnya juga ikut terproduksi. Meski semakin rentan, namun aset-aset itu harus tetap baik dan aman dioperasikan agar produksi tetap dapat dipertahankan,” jelas John Anis, Vice President Field Operations TEPI.

Untuk mengontrol terproduksinya air, TEPI menerapkan beberapa inovasi untuk mengisolasi air baik secara mekanis maupun kimiawi, untuk mempertahankan akses lubang sumur setelah zona yang memproduksi air terisolasi. Injeksi surfaktan untuk menurunkan densitas dan tegangan permukaan air di dalam sumur juga sudah diterapkan. TEPI juga melakukan inovasi untuk mengendalikan produksi pasir pada sumur-sumur tuanya. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah dengan cara memompa cairan resin ke formasi reservoir untuk mengikat pasir yang tidak terkonsolidasi.


Selain inovasi tersebut diatas, TEPI juga melakukan proyek-proyek pengembangan yang mampu meningkatkan dan mempertahankan tingkat produksi, baik itu gas maupun likuid berupa minyak dan kondensat. Di tahun 2015 saja, TEPI berhasil menyelesaikan beberapa proyek pengembangan, seperti proyek Anjungan Lepas Pantai Jempang Metulang (JM1) di Lapangan South Mahakam, dan mulai beroperasi pada Juli 2015. “Anjungan JM1 merupakan bagian dari proyek pengembangan South Mahakam tahap ketiga (SMK3) dan merupakan anjungan keempat di Lapangan South Mahakam,” terang John Anis. Tiga anjungan terdahulu adalah: Main Stupa (SP1), West Stupa (SP2) dan East Mandu (MD1), yang semuanya dibangun pada proyek pengembangan South Mahakam tahap kesatu dan kedua.

Dengan beroperasinya anjungan Jempang Metulang (JM1), produksi lapangan South Mahakam dapat mencapai puncak produksi 330 juta standar kaki kubik (gas) dan 14.600 barel per hari (kondensat).

Kemudian, pada September 2015, TEPI berhasil menyelesaikan modifikasi terakhir pada anjungan BL yang merupakan bagian dari Proyek Pengembangan Lapangan Bekapai Tahap 2B. Dengan proyek ini, produksi gas di Lapangan Bekapai bisa mencapai 95 juta standar kaki kubik, sementara produksi minyaknya dipertahankan di atas 10.000 barel per hari. Upaya ini berkontribusi signifikan pada pencapaian produksi tahunan TEPI di 2015. “Kinerja produksi terjaga dengan baik sebagai salah satu hasil nyata dari keunggulan operasional dalam menghadapi kondisi usaha yang penuh tantangan,” terang Noor Syarifuddin, Vice President Geosciences & Reservoir TEPI.

Pasokan Gas untuk Nusantara

Setelah diproduksi, gas-gas tersebut dikirimkan melalui pipa ke lapangan pemrosesan, seperti Lapangan Senipah – Peciko – South Mahakam (SPS) yang juga dioperasikan oleh TEPI, sebelum dikirimkan kembali ke berbagai sektor industri. Saat ini Blok Mahakam memasok 31% suplai gas untuk pasar domestik, yang dialokasikan untuk pabrik pupuk dan petrokimia, pembangkit listrik independen Senipah, PLN Bontang, distribusi gas kota Bontang, LNG untuk Jawa – menjadi pelopor pemasok LNG untuk pasar domestik di Jawa sejak 2012 dan memasok 90% pasokan LNG ke Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) di Jawa Barat – dan Bali – sejak 2016, serta LPG untuk Pertamina. Sisanya sebesar 69% diekspor dalam bentuk LNG ke Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Dari keseluruhan pasokan gas ke Kilang LNG Bontang, TEPI adalah pemasok terbesar, yaitu mencapai sekitar 84%.

Gas dari Blok Mahakam yang dipasok untuk pembangkit listrik Independent Power Plant (IPP) Senipah sebesar 17 – 18 juta standar kaki kubik. PLTG ini berdaya 2 x 41 MW dan merupakan pembangkit listrik dengan kapasitas terbesar di Kalimantan Timur. Gas tersebut menjadi bahan bakar bagi dua mesin turbin guna menyediakan listrik bagi sebagian besar Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan sejumlah kota dan kabupaten lain di Kalimantan Timur. Kemudian, untuk mendukung program Konversi Minyak Tanah ke LPG, TEPI memasok 334 kiloton LPG setiap tahunnya – sekitar 14% dari produksi LPG nasional.

(adv/adv)

Source : detik.com