Gangguan Pipa Laut Utara Topang Harga Minyak Dunia

Gangguan Pipa Laut Utara Topang Harga Minyak DuniaDi awal sesi perdagangan Senin (19/12) waktu setempat, harga minyak brent sempat terdorong oleh aksi mogok kerja serikat pekerja di sektor energi Nigeria. (ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo)

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak acuan Brent terus merangkak naik pada perdagangan Senin (18/12), waktu Amerika Serikat. Kenaikan tersebut dipicu oleh gangguan pada pipa Laut Utara dan aksi mogok kerja di Nigeria.

Dilansir dari Reuters, Selasa (19/12), harga minyak mentah acuan Brent berjangka LCOc1, naik US$0,18 menjadi US$63,41 per barel.

Harga Brent sempat menyentuh US$63,91 per barel di awal sesi perdagangan, tetapi kembali merosot pasca operator pipa Forties Laut Utara INEOS menyatakan retakan yang terjadi pada pipa tidak menyebar.

“Gangguan pada pipa Fories terus menopang pasar. Kita (pelaku pasar) hanya memperhatikan kondisi ini sembari melihat bagaimana pasar bereaksi terhadap ketidaktersediaan minyak,” ujar partner Again Capital John Kilduff.

Pipa yang mengangkut 450 ribu barel minyak per hari ini (bph) ini penting bagi pasar minyak global, karena minyak yang diangkutnya diperhitungkan dalam penentuan harga acuan Brent.

Temuan adanya retakan menyebabkan berhentinya operasional pipa sejak 11 Desember 2017 lalu. INEOS telah menetapkan kondisi tersebut sebagai kondisi kahar.

“Masih belum ada informasi yang terpercaya tentang berapa lama upaya perbaikan bakal berlangsung dan kapan pipa bakal kembali beroperasi,” ujar Commerzbank dalam catatannya.

“Hal ini akan mengeluarkan kemungkinan turunnya harga Brent ke depan,” tambahnya.

Lihat juga:Membaca Prospek Industri di Era Moratorium Sawit Jokowi

Di awal sesi perdagangan, harga Brent juga sempat terdorong oleh aksi mogok kerja serikat pekerja di sektor energi Nigeria. Kendati demikian, aksi tersebut berakhir di hari yang sama setelah sebuah perusahaan minyak dan gas (migas) domestik membatalkan pemecatan pegawai.

Asosiasi Pegawai Senior Bahan Bakar Minyak dan Gas Natural Nigera menyatakan aksi mogok kerja dapat kembali terjadi pada Januari 2018.

Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) tergelincir oleh sentimen kenaikan produksi minyak Negeri Paman Sam. Tercatat, harga WTI turun US$0,14 menjadi US$57,16 per barel.

Lihat juga:BPH Migas dan BMKG Koordinasi Pantau Kondisi Gunung Api

Produksi minyak AS naik 16 persen sejak pertengahan 2016 menjadi 9,8 juta bph. Angka tersebut mendekati Arab Saudi yang memproduksi 10 juta bph dan Rusia yang memproduksi 11 juta bph.

Kenaikan tersebut telah mengganggu upaya Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya untuk menyeimbangkan pasar dengan cara menahan produksi. Sebagai catatan, OPEC dan beberapa negara non-OPEC, termasuk Rusia, sepakat untuk memangkas produksi sebesar 1,8 juta bph sejak Januari 2017 hingga akhir tahun depan.

Badan Energi Internasional menyatakan, kenaikan produksi minyak shale AS bakal membuat pasar minyak global kelebihan pasokan sekitar 200 ribu bph untuk paruh pertama tahun depan. Perkiraan tersebut hampir mirip dengan prediksi Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) pada periode yang sama. (agi/agi)

Source : cnnindonesia.com