GALANGAN KAPAL – PT PAL SIAP BANGUN FPU HUSKY – CNOOC

JAKARTA – PT PAL Indonesia menegaskan kesiapannya  membangun fasilitas Floating Production Unit (FPU) sesuai dengan persyaratan SKK Migas untuk kebutuhan Husky-CNOOC Madura Limited.

Direktur Utama PT PAL Indonesia M. Firmansyah Arifin mengatakan perusahaan yakin bisa membangun fasilitas itu dalam kurun waktu 12 bulan sesuai dengan persyaratan yang diberikan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

“Bisa kita konsorsium, mengajak teman-teman galangan kapal nasional lainnya. Pekerjaannya dibagi dengan galangan kapal lain. Itu cepat bisa selesai,” ujarnya. Senin (21/3).

Dengan sistem konsorsium, dia menjelaskan pekerjaan pembangunan kapal dapat dibagi berdasarkan blok. Setelah galangan kapal nasional menyelesaikan bagiannya, maka blok FPU  dapat  dirakit di fasilitas milik PT PAL atau galangan lain.

Dia mengerti keinginan SKK Migas yang ingin mengerjakan proyek itu dengan cepat. Alasannya, SKK Migas terdesak waktu pengerjaan yang harus segera dijalankan untuk proyek Husky-CNOOC Madura. Nilai pembangunan fasilitas ini diperkirakan mencapai US$400 juta – US$600 juta, sementara nilai proyek top side-nya sekitar US$30 juta – US$ 40 juta.

Firmansyah menegaskan keahlian dan pengalaman perusahaan sudah cukup untuk membangun FPU tersebut.

Sebelumnya, PT PAL Indonesia telah membuktikan keandalan dalam pembangunan anjungan lepas pantai (platform offshore) untuk Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) dan SKK Migas, Fasilitas itu dimenangkan dalam tender khusus untuk Engineering Procurement Construction and Installation (EPCI) Madura BD yang ke-8. “Intinya suda ada bukti. PAL tidak diragukan lagi,”tegasnya.

Terkait kemampuan finansial, dia mengatakan PT PAL Indonesia memang pernah mengalami gejolak keuangan. Pada 2012, di mengakui kolektibilitas perusahaan di tiga bank nasional  sempat mencapai golongan lima. Namun, hal tersebut dapat diselesaikan perusahaan hingga kini kolektibilitas PT PAL Indonesia kembali normal di golongan satu.

Perusahaan dapat bangkit dari keterpurukan sejak pemerintah menyuntikan PMN pada 2012 dan perolehan kontrak pembangunan alutsista Kapal Cepat Rudal (KCR) yang terdiri dari tiga tahap dengan total 7 unit kapal. (Hadijah Alaydrus)

Source : Bisnis Indonesia – 22 Maret 2016