FUNDAMENTAL BELUM SEIMBANG – Harga Minyak Mentah Masih Rentan

JAKARTA – Harga minyak mentah berhasil naik akibat pemangkasan produksi di Kuwait setelah empat sesi perdagangan sebelumnya merosot. Namun, koreksi bisa kembali terjadi dalam waktu dekat karena faktor suplai masih jauh melebihi penyerapan.

Pada perdagangan Selasa (19/4) pukul 17.38 WIB harga minyak Brent kontrak Juni 2016 naik 0,75 poin atau 1,75% menjadi US$43,66 per barel. Adapun minyak WTI kontrak Mei 2016 berada di level US$40,35 per barel, meningkat 0,57 poin atau 1,43%.

Analyst Danske Bank A/S di Oslo Jens Naervig Pedersen menuturkan, pembicaraan di Doha pada Minggu (17/4) gagal mendapatkan solusi, setelah Arab Saudi bersikeras tidak akan menahan produksi jika produsen utama lainnya, termasuk Iran, tidak mengikuti kesepakatan. Hal ini juga mengangkat kekhawatiran produsen di Timur Tengah bakal menggenjot suplai di tengah upaya menstabilkan pasar.

Pada perdagangan kemarin harga berhasil menghijau setelah ada pemogokan pekerja industri perminyakan di Kuwait, sehingga menghentikan 60% pasokan di sana. Para pekerja memprotes pemotongan gaji dan sejumlah bonus.

Middle East Economic Digest menyampaikan, aksi pemogokan di negara produsen keempat terbesar OPEC tersebut menjadi yang pertama kali sejak 1996. Penyedotan minyak mentah di Kuwait diprediksi menjadi 1,1 juta barel per hari, setelah sempat mencapai 1,5 juta barel per hari.

Namun, sambung Pedersen, dampak besar dari pemangkasan produksi Kuwait tidak aka berlangsung lama. “Pemogokan di Kuwait hanya memberikan perhatian sementara. Sentimen minyak tetap cenderung merosot, terutama setelah pembicaraan di Doha yang sia-sia,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (19/4).

Selain gejala di Kuwait, faktor lain yang memengaruhi sentimen harga dalam jangka pendek ialah rilis data produksi minyak mentah Amerika Serikat oleh U.S Energy Information Administration (EIA) pada Rabu (20/4) waktu setempat.

Bloomberg mengestimasi produksi mingguan AS yang terakhir 15 April bakal meningkat 3 juta barel. Pada pekan sebelumnya, stok bertambah 6,634 juta barel menjadi 536,531 juta barel. Adapun kinerja penyulingan berubah 89,2% dan stok di Cushing sebagai patokan harga WTI tergelincir 10.000 barel menjadi 64,5 juta barel.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menyampaikan, setelah rapat Doha gagal menghasilkan kesepakatan sehingga kredibilitas OPEC menurun. Walaupun tanpa kehadiran Iran, ekspektasi pertemuan ini dapat mencapai perjanjian pembekuan tingkat produksi sangat tinggi.

“Sikap Arab Saudi dan Iran mengacaukan segala upaya, sehingga menyebabkan harga WTI merosot lebih dari 5% pada Senin (18/4),” ujarnya melalui siaran pers, Selasa (19/4).

Secara realistis memang dampak pembekuan tingkat produksi tidak akan berdampak besar terhadap masalah over suplai. Namun, tindakan simbolis dari OPEC untuk berupaya mengatasi  pasokan yang berlebihan dapat membawa optimisme akan adanya kesepakatan di masa mendatang.

Rangkaian peristiwa tersebut, sambung Lukman, cukup menyiratkan para pemain besar di kartel minyak mentah tidak memiliki itikad nyata untuk mengatasi produksi.”Mereka terkesan hanya mengeksploitasi level volatilitas yang tinggi untuk menciptakan lonjakan harga spekulatif berdasarkan ekspektasi semu,”.

Sentimen terhadap harga minyak tetap bearish. Mengingat pasar mulai kehilangan harapan tentang kemampuan OPEC mengatasi over suplai di pasar, investor bearish mendapat alasan untuk melakukan akdi penjualan.

Dari sudut pandang teknikal, penurunan tajam di sesi Senin dapat memberikan momentum yang memadai untuk minyak mentah WTI menuju level US$38 per barel.

Terakhir kali harga minyak merosot ke level terendah dalam 13 tahun terakhir ialah US$26,20 per barel di Februari. Menurut Lukman, harga mungkin perlu diperdagangkan di bawah US$25, agar dapat memaksa adanya kesepakatan produksi yang signifikan. (Bloomberg/Hafiyyan).

Source : Bisnis Indonesia – 20 April 2016