Era MEA: BUMN Konstruksi Didorong Kian Ekspansif

Anitana Widya Puspa – Selasa, 25/10/2016 02:37 WIB

27Ilustasi kegiatan konstruksi di Jakarta Timur

Bisnis.com, JAKARTA—Memasuki Era Masyarakat Ekonomi ASEAN, masuknya Badan Usaha Jasa Konstruksi Asing kian tak terbendung. Hal itu perlu diimbangi dengan ekspansi Badan Usaha Jasa Konstruksi Nasional yang melakukan ekspansi global.

Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang disusun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), per awal Oktober ini, Negara China berada di peringkat teratas bagi negara dengan kehadiran BUJKA terbanyak yang masih aktif. Disusul Korea Selatan di posisi kedua.

Gabungan Pelaksana Kosntruksi Seluruh Indonesia (GAPENSI) menilai  gencarnya China dalam melakukan ekspansi ke negara lain memperoleh dukungan penuh dari pemerintahannya.   Pemerintah China katanya selain memperkuat pangsa dalam negeri juga mendorong BUJK yang besar  untuk melakukan proyek-proyek di luar negeri tanpa memperdulikan kendala bahasa ataupun budaya

Wakil Sekretaris Jenderal II GAPENSI, Errika Ferdinata mengatakan pemerintah Indonesia semestinya juga melakukan hal serupa. Dia mengharapkan pemerintah melakukan langkah konkret seperti mendorong  BUMN yang masuk dalam kategori besar gencar dalam melakukan ekspansi ke negara lain supaya tidak berebut kue konstruksi dengan sektor kecil dan menengah. Dengan demikian, sektor kecil dan menengah mampu memperkuat pangsa dalam negeri.

Tak hanya itu, sebelum berlakunya era MEA, negara asia semisal China dan Jepang memang telah lama memperluas pasar global. Dia mengaku meski tanah pengerjaan infrastruktur di tanah air tengah menggeliat, namun hingga kini sektor kecil dan menengah belum merasakan dampaknya.

“Sudah kami katakan dalam beberapa kali rapat dengan kementerian bahwa kami belum merasakan yang namanya  “booming infrastruktur”. Harusnya mempersiapakan  sambil menguatkan kontraktor  dalam negeri, yang besar-besar keluar negeri  jangan besar kecil main semua di sini. Yang besar nantinya juga hanya akan kuat di negeri sendiri,” katanya Minggu (24/10)

Selama ini, Errika merasa tidak adanya relasi yang solid antara kontraktor besar dengan sektor kecil dan menengah di tanah air . Selain itu tak adanya motivasi dari BUMN besar dalam berekspansi karena merasa telah memiliki pangsa pasar yang besar dalam negeri.

Tim Teknis Pemberian Izin Usaha Di Bidang PUPR PTSP BKPM, Agung Dermawan mengatakan hingga awal Oktober ini tercatat China memliki 49,5 BUJKA yang terdaftar aktif, sementara Korea Selatan memiliki 46 BUJKA yang terdaftar aktif. Angka tersebut tidak bulat lantaran terdapat BUJK asal China yang terintegrasi dengan duajenis sertifikat dengan masa berlaku yang berbeda yakni aktif dan tak aktif.

Sementara itu hingga awal Oktober tahun ini terdapat 591 BUJKA terdaftar di Indonesia dengan status 227 aktif, 292 tidak aktif serta 75 tutup.

Source : bisnis.com