Energy & Mining — Nasib Blok Migas Setelah Habis Kontrak

Januari 05 / 2017 — 09:45 WIB
Oleh : Duwi Setiya Ariyanti

Bisnis.com, JAKARTA – Nasib blok minyak dan gas bumi yang habis masa kontraknya pada 2018 ditunggu, kendati rekomendasi dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi telah sampai di meja menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan, pihaknya masih menanti keputusan pemerintah terkait wilayah kerja yang habis masa kontraknya.

16Dirut sekaligus CEO PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto (kiri) dan CEO Saudi Aramco Amin Nasser (kanan). – Antara

Dari data Kementerian ESDM, blok yang akan habis masa kontrak pada 2018 dan belum ditetapkan nasibnya yakni Tuban, Ogan Komering, Sanga-Sanga dan South East Sumatera.

Adapun, Blok B, NSO, Blok East Kalimantan yang telah dikembalikan Chevron pada awal 2016, Blok Tengah yang juga akan beralih ke PT Pertamina karena menjadi bagian Blok Mahakam.

Mengacu pada Peraturan Menteri No.15/2015 tentang Wilayah Kerja yang Habis Masa Kontraknya, pemerintah bisa menyerahkan pengelolaan wilayah kerja tersebut kepada Pertamina, kepada kontraktor eksisting atau pengelolaan bersama antara Pertamina-kontraktor.

Kontraktor eksisting bisa mengajukan perpanjangan kontrak maksimum tiga tahun sebelum kontrak berakhir. Sementara, Pertamina bisa mengajukan proposal yang menyatakan minat atas wilayah kerja tersebut enam bulan setelah pengajuan proposal perpanjangan kontrak oleh kontraktor eksisting.

Menanti Putusan

Dwi tak menyebut berapa wilayah kerja yang diminati perseroan secara menyeluruh. Adapun, pihaknya mengaku masih menanti keputusan pemerintah terkait Blok Sanga-Sanga yang akan berakhir pada 2018.

“Kami tunggu (keputusan pemerintah),” ujarnya di Jakarta usai menghadiri penandatanganan nota kesepahaman Pertamina dengan Nahdlatul Ulama, Rabu (4/1/2017).

Nasib wilayah kerja yang habis masa kontrak pun akan terkait dengan kewajiban untuk menawarkan 10% saham partisipasi kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang menjadi lokasi kegiatan migas.

Dia menilai, kewajiban operator untuk menalangi terlebih dahulu pembelian saham partisipasi milik BUMD tak disoal meskipun banyak wilayah kerja yang akan beralih pengelolaannya kepada perseroan. Pasalnya, blok tersebut merupakan wilayah kerja produksi yang bisa menghasilkan minyak atau gas.

“Bisa, tapi kan itu blok produksi di samping nalangi, kami juga dapat uang juga. Jadi enggak masalah.”

Pada kesempatan yang sama, Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Syamsu Alam mengatakan, pihaknya mengajukan proposal atas 10 blok yang akan habis masa kontraknya seperti East Kalimantan, Attaka dan Sanga-Sanga. Namun, dia enggan menyebut tujuh wilayah kerja lainnya karena masih belum diputuskan pemerintah.

“Kami mengajukan ada 10 blok, di antaranya East Kalimantan, Attaka dan Sanga-Sanga,” katanya.

Adapun target belanja modal tahun ini lebih besar karena terdapat beberapa kegiatan tahun ini seperti transisi Blok Mahakam dan akuisisi blok migas di Rusia serta Iran. Menurutnya, realisasi capex 2016 sebesar US$2,6 miliar dan target capex tahun ini sebesar US$3,7 miliar.

“[Target capex tahun ini] US$3,7 miliar. Tahun lalu realisasinya itu sekitar US$2,6 miliar,” ujar Syamsu.

Adapun, pada masa transisi Blok Mahakam, pihaknya akan mengebor 19 sumur. Sementara, untuk kegiatan di Rusia, pihaknya melanjutkan proses kerja sama dengan Rosneft.

Di Iran, perseroan akan menyerahkan proposal atas dua blok migas yakni Ab Teymour dan Mansouri paling lambat Februari. Secara keseluruhan, pada 2016 produksi migas terealisasi 651.000 barel setara minyak per hari (thousand barrel oil equivalent per day/mboepd) dari target 640 mboepd.

Rincinya, produksi minyak tercapai yakni 312.000 barel per hari (bph) dari target 305 bph sedangkan produksi gas1.961 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd) dari target 1.942 MMscfd. Sementara, 89.000 bph minyak dan 223 MMscfd di antaranya berasal dari aset di luar negeri.

Pada 2017, produksi minyak menyentuh 334.000 bph dengan 228.000 bph dari aset dalam negeri dan 106.000 bph dari aset luar negeri. Untuk produksi gas tahun ini, perseroan menargetkan mencapai 2.080 MMscfd dengan 1.824 MMscfd dari aset dalam negeri dan 256 MMscfd dari luar negeri.

Produksi tersebut diharapkan tercapai melalui kegiatan seperti pengeboran 129 sumur pengembangan termasuk 13 sumur mitra, kerja ulang (work over) 379 kegiatan termasuk 31 sumur mitra dan perawatan sumur (well service) 5.000 kegiatan.

“Kami ngelanjutin yang Rosneft, Iran nanti kami Februari kami masukin.”

Source : bisnis.com