BP Indonesia Mulai Perawatan Kilang LNG Tangguh Train-2

Maret 08 / 2017 — 20:27 WIB
Oleh : Duwi Setiya Ariyanti
Ilustrasi. – Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — BP Indonesia, operator kilang gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di Teluk Bintuni, Papua Barat memulai perawatan kilang Train-2 pada April 2017.

Head of Country BP Indonesia Dharmawan Samsu mengatakan saat ini, kilang telah beroperasi sesuai dengan kapasitasnya yakni 7,6 juta ton per tahun (million ton per annum/mtpa). Adapun, untuk tahun ini pihaknya akan melakukan perawatan kilang atau turn around sehingga kilang tak menghasilkan LNG untuk sementara waktu yakni mulai awal April hingga pekan ketiga Mei 2017 untuk Train-2.

“Pengecekan dan perawatan rutin untuk LNG Train-2 yang akan dimulai dari awal April hingga sekitar minggu ketiga Mei 2017,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (8/3/2017).

Turn around, ujar Dharmawan, memang lazim dilakukan setiap tahunnya secara bergantian. Penghentian sementara kegiatan produksi, tuturnya, tak berpengaruh terhadap produksi serta komitmen terhadap konsumen.

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), tahun ini akan dihasilkan LNG dengan volume 278 kargo yang 163 kargo di antaranya berasal dari Kilang LNG Bontang dan 115 kargo dari Tangguh.

“Proses pengecekan dan perawatan ini sudah diperhitungkan dalam rencana produksi Tangguh tahun 2017 dan tidak akan mengganggu komitmen terhadap konsumen LNG kami,” katanya.

Selain kegiatan perawatan kilang, saat ini proyek penambahan kapasitas kilang berjalan sesuai target yang telah ditetapkan. Sebelum memulai konstruksi fisik di sekitar kuartal III/2017, dia menyebut pihaknya sedang menyiapkan lokasi atau site preparation sambil melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar. Dengan kegiatan tersebut, diharapkan proyek mulai menghasilkan gas pertamanya pada 2020.

Adapun, proyek Kilang LNG Tangguh Train-3 ini merupakan fase pengembangan berupa tambahan satu fasilitas proses LNG baru. Melalui penambahan fasilitas pemroses LNG tersebut, terdapat tambahan kapasitas produksi sebesar 3,8 juta ton per tahun (million ton per annum/mtpa). Secara total, kapasitas kilang LNG Tangguh menjadi 11,4 mtpa dari Train-1 dan Train-2 yang sudah beroperasi sejak 2009.

Selain tambahan satu fasilitas pemrosesan LNG, akan terdapat tambahan 13 sumur produksi baru, dua anjungan lepas pantai dan dermaga baru sebagai pemuatan LNG. Proses yang juga berjalan bersamaan, ujar Dharmawan, yakni kegiatan pengeboran sumur.

Ketika beroperasi, kilang yang membutuhkan investasi US$8 miliar itu, 75% produksi LNGnya dari Kilang Tangguh Train-3 dijual kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). PLN akan menerima 688 kargo dari Kilang LNG Tangguh selama 2016-2033 secara bertahap yakni sebanyak 12 kargo pada 2016, 20 kargo per tahun selama 2017-2019, dan 44 kargo pada periode 2022-2033. Pembeli LNG lainnya yakni Kansai Electric Power Company sebesar 1 juta ton per tahun.

Selain itu, pasokan gas juga akan mengalir untuk sektor ketenagalistrikan di Papua, dengan komitmen sebesar 20 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd) juga untuk pabrik pupuk yang akan dibangun di Papua Barat.

Pada proyek tersebut, BP menguasai saham mayoritas sebesar 37,16%. Sisanya, dikuasai MI Berau B.V. (16,30%), CNOOC Muturi Ltd. (13,90%), Nippon Oil Exploration (Berau), Ltd. (12,23%), KG Berau/KG Wiriagar (10,00%), Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc. (7,35%), dan Talisman Wiriagar Overseas Ltd. (3,06%).

“[Konstruksi fisik dimulai] kuartal III/2017, kuartal IV/2017 lah. First gas 2020, kami harapkan semua pihak siap. Sebelum akhir tahun sudah bisa konstruksi,” ujarnya di Jakarta, Selasa (7/3/2017) malam.

Editor : Martin Sihombing
Source : bisnis.com