Emiten Gas – Menanti Berkah Minyak Mentah

Selasa, 06/12/2016 07:10 WIBSukirno & Nindya Aldilah

10Alat pengebor minyak bumi

JAKARTA — Kinerja emiten minyak dan gas bakal makin ‘panas’ setelah harga minyak mentah dunia terus memecahkan rekor baru akibat terdorong oleh keputusan OPEC yang memangkas produksi 1,2 juta barel per hari.

Dari catatan Bisnis, kinerja emiten minyak dan gas (migas) hingga kuartal III/2016 masih tertekan. Kinerja positif hanya mampu ditorehkan oleh PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), dari tujuh emiten migas yang tercatat di PT Bursa Efek Indonesia. (lihat tabel)

Analis saham pertambangan dari PT Recaptal Securities Kiswoyo Adi Joe menilai berkah harga minyak mentah dapat diraup oleh emiten paling cepat pada awal 2017. Melesatnya harga minyak mentah masih perlu dicermati lebih lanjut untuk memproyeksi kinerja emiten di Tanah Air.

“Tunggu tiga bulan, kalau harga minyak naik terus, kinerja emiten baru akan kelihatan pada kuartal I/2017,” katanya saat dihubungi Bisnis, Minggu (4/12).

Kontrak minyak jenis Brent diperdagangkan pada level US$54,46 per barel pada penutupan di London, naik 1% dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Sepanjang pekan lalu, Brent membukukan penguatan paling tajam sejak Januari 2009 dengan kenaikan 13%.

Penguatan tajam juga terjadi di New York. Kontrak WTI diperdagangkan menguat 1,2% ke titik paling tinggi sejak Juli 2015 pada harga US$51,68 per barel.

Sebaliknya, harga minyak mentah Indonesia November turun US$3,39 per barel dari US$47,55 pada Oktober menjadi US$43,25 per barel. Berdasarkan laman Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, harga minyak mentah Indonesia kembali turun setelah menguat pada September.

Kiswoyo menilai tren penguatan harga minyak mentah dunia bakal bergantung pada permintaan. Musim dingin yang terjadi di Eropa dan negara-negara lainnya diproyeksikan mengerek permintaan.

Bila lonjakan harga minyak terus bertahan, sambungnya, akan berdampak positif terhadap kinerja emiten lantaran penjualan emas hitam itu tidak dilakukan secara kontrak seperti pada batu bara. Tren peningkatan akan terkonfirmasi jika musim dingin sudah berakhir, tetapi permintaan masih tinggi.

Dia menilai emiten migas akan berjaya apabila harga bertahan di atas US$80 per barel lebih dari tiga bulan. Rerata biaya produksi minyak oleh emiten di Tanah Air mencapai US$20 per barel—US$35 per barel.

Senior Market & Technical Analyst PT Daewoo Securities Indonesia Heldy Arifien, menilai saham-saham emiten minyak dan gas masih akan menjadi pilihan pelaku pasar hingga akhir tahun ini.

Sektor pertambangan diproyeksi masih menjadi primadona investor terutama dalam aksi window dressing dalam menutup Shio Monyet Api pada 2016. “Kami memiliki proyeksi resistance minyak US$58 per barel sampai US$60 per barel. Sampai akhir tahun rerata US$48 per barel. Euforia harga minyak dimanfaatkan oleh investor untuk window dressing paling tidak sampai kuartal I/2017,” katanya.

Saham sektor pertambangan hingga Kamis (1/12) melesat 73,76% sepanjang tahun berjalan. Lonjakan itu jauh meninggalkan sektor lainnya dan IHSG yang menguat 13,19% (year-to-date).

Editor : Gita Arwana Cakti

Source : bisnis.com