Ekonomi — OPEC Konsisten ‘Sunat’ Produksi, Harga Minyak Menanjak

Galih Gumelar, CNN Indonesia
Selasa, 21/02/2017 07:45 WIB
18Laporan menunjukkan, tingkat kepatuhan negara-negara OPEC terhadap pemangkasan produksi mencapai 90 persen sepanjang bulan lalu. (REUTERS/Lucy Nicholson)
Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Senin (20/2) seiring optimisme pelaku pasar bahwa pemangkasan produksi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bisa menghasilkan kenaikan harga yang berlanjut.

Dikutip dari Reuters, OPEC dan negara lain termasuk Rusia, sepakat untuk memangkas produksi hampir sebesar 1,8 juta barel per hari selama semester I 2017.

Laporan menunjukkan, tingkat kepatuhan negara-negara OPEC terhadap pemangkasan produksi mencapai 90 persen sepanjang bulan lalu.

Selain itu, terdapat kemungkinan OPEC akan memperpanjang periode pemangkasan produksi pada semester II tahun ini apabila pembatasan produksi masih belum memberikan dampak yang berarti.

Data terbaru menunjukkan, Arab Saudi juga mengurangi pengiriman minyak mentah pada bulan Desember 2016 menjadi 8,01 juta barel per hari. Angka ini lebih kecil dibanding data bulan sebelumnya yang mencapai 8,25 juta barel per hari.

Di samping itu, penguatan harga minyak juga disokong oleh pelemahan nilai tukar Dolar AS. Hal ini membuat pembelian minyak dengan denominasi Dolar AS lebih murah dibanding mata uang lain.

Hasilnya, harga minyak Brent berjangka ditutup menguat 0,7 persen ke posisi US$56,18 per barel. Di sisi lain, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berjangka meningkat US$0,29 ke angka US$53,69 per barel.

Sesi perdagangan hari Senin terbilang lesu setelah volume transaksi kontrak minyak Brent yang diperdagangkan hanya mencapai 181 ribu lot atau di bawah rata-rata 205 ribu.

Sementara itu, perdagangan kontrak minyak WTI juga terbilang sepi dengan angka puluhan ribu lot. Padahal, sesi perdagangan biasa bisa mencapai 300 ribu lot.

Selain itu, momen penguatan harga ini terhalang dengan kenaikan produksi minyak mentah AS. Pasalnya, harga minyak hanya bertambah US$2 per barel sejak awal bulan.

Data Baker Hughes menunjukkan, perusahaan minyak AS tercatat menambah pengeboran selama lima pekan berturut-turut karena termotivasi peningkatan harga minyak yang menembus angka US$50 per barel.

Sementara riset Goldman Sachs menyebut, produksi minyak AS bisa bertambah sebesar 405 ribu barel per hari jika pengeboran minyak seperti angka saat ini. Secara tahunan (year-on-year), produksi AS bisa meningkat hingga 130 ribu barel per hari. (gir)