Ekonomi — Lawatan Jepang Bawa Hasil Studi Sejumlah Proyek Jokowi

Yuliyanna Fauzie, CNN Indonesia
Jumat, 13/01/2017 10:25 WIB
1Antara lain, pembangunan Pelabuhan Sabang, Aceh, pengembangan sarana pasar ikan di Natuna di Kepulauan Riau, dan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Morotai. (REUTERS/Issei Kato).
Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Kemaritiman) memastikan bahwa lawatan pemerintah Jepang pada akhir pekan ini bertujuan untuk memberikan hasil kajian atas sejumlah proyek yang telah disodorkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Jepang.

Deputi I Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Arief Havas Oegroseno mengatakan, pemerintah Jepang akan memberikan kajian dari tiga proyek yang ditawarkan pada lawatan Jokowi ke Jepang pada Desember lalu.

Proyek tersebut, antara lain pembangunan Pelabuhan Sabang di Provinsi Aceh, pengembangan sarana pasar ikan di Natuna di Kepulauan Riau dan pembangunan sektor pariwisata di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Morotai di Kepulauan Maluku.

“Mereka sudah siapkan, dan sudah kirim tim ke sini. Pemerintah Jepang sudah ke Sabang, Natuna, dan Morotai. Sekarang mereka sedang kelarkan studi terlebih dahulu, tidak secepat ini,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com di kantornya, Kamis (12/1).

Untuk Pelabuhan Sabang, pemerintah Indonesia melihat kecocokan misi dengan konsep pengembangan konektivitas yang ditawarkan Jepang. Pasalnya, Kemenko Kemaritiman menilai, konsep ini sesuai dengan Sabang yang terletak di mulut Samudera Hindia.

Sementara, untuk pengembangan perikanan di Natuna, Indonesia dan Jepang akan membangun sarana dan prasarana untuk membentuk kawasan tersebut menjadi pasar perikanan terbesar di Indonesia, mengingat kekayaan sektor perikanan di Natuna sangat besar.

Sedangkan untuk KEK Morotai yang fokus pada sektor pariwisata, pemerintah ingin membangun kebutuhan pariwisata yang terintegrasi, mulai dari pelabuhan, bandara, tempat penginapan, hingga tempat wisata yang ditawarkan di Morotai.

Selain tiga proyek yang telah dikaji oleh Jepang, Havas menyebutkan, Jepang juga mempertimbangkan penawaran pemerintah Indonesia untuk menggarap blok minyak dan gas (migas) di laut dalam (deepwater) yang ada di Indonesia bagian Timur.

“Sudah kami bicarakan. Tetapi, lokasinya masih kami cek, antara Sulawesi atau Nusa Tenggara Timur,” imbuhnya.

Sementara, untuk tiga proyek lainnya telah memasuki tahap finalisasi, yakni pembangunan Pelabuhan Patimban, pengembangan Blok Masela yang dikerjakan perusahaan migas Inpex Corporation, dan pembangunan kereta semi cepat Jakarta-Surabaya.

Havas menjelaskan, sejumlah proyek yang ditawarkan pemerintah kepada Jepang didasari oleh kerja sama yang baik antar kedua negara. Selain itu, ia menilai, Jepang memiliki tiga kelebihan.

Pertama, menawarkan teknologi dan kecakapan kerja yang sesuai dengan apa yang diinginkan Indonesia. Kedua, sejak beberapa tahun terakhir, investasi Jepang di Indonesia tidak pernah ‘kering’. Ketiga, Jepang menawarkan konsep konektivitas.

Konsep ini, lanjutnya, mengedepankan pembangunan di titik-titik penghubung atau hub penting yang dimiliki Indonesia sehingga kian terintegrasi satu sama lain dan sesuai dengan apa tujuan pengembangan kawasan strategis di Indonesia.

“Mereka tawarkan pengembangan konektivitas dan ini sesuai dengan poros maritim kita, mengembangkan titik-titik strategis,” katanya. (bir)

Source : cnnindonesia.com