Ekonomi — Harga Minyak Naik, Terkerek Sanksi AS Terhadap Iran

Giras Pasopati, CNN Indonesia
Senin, 06/02/2017 10:46 WIB
26Harga minyak naik tipis di tengah kekhawatiran bahwa sanksi baru AS terhadap Iran bisa diperpanjang dan mempengaruhi pasokan minyak mentah. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak naik tipis pada perdagangan Senin (6/2) di tengah kekhawatiran bahwa sanksi baru AS terhadap Iran bisa diperpanjang dan mempengaruhi pasokan minyak mentah, tapi pasar dibatasi oleh tanda-tanda lebih lanjut dari produksi AS.

Seperti dilansir dari Reuters, ketegangan antara Teheran dan Washington telah meningkat sejak uji rudal balistik Iran baru-baru ini mendorong pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi terhadap individu dan entitas terkait dengan Garda Revolusi Iran.

Harga minyak mentah Brent berjangka, patokan internasional untuk harga minyak, yang diperdagangkan pada US$56,86 per barel pada awal perdagangan, naik 5 sen dari penutupan terakhir mereka.

Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berjangka naik 5 sen menjadi US$53,88 per barel.

Para pedagang mengatakan, ketegangan antara Teheran dan Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran bahwa sanksi AS bisa diperketat lebih lanjut untuk mempengaruhi ekspor minyak Iran, yang jumlahnya hanya diizinkan untuk kembali ke level normal tahun lalu.

“Langkah oleh AS untuk memberlakukan pembatasan baru terhadap Iran setelah menguji sebuah rudal balistik telah meningkatkan risiko ketegangan lebih lanjut dan mengganggu pasokan. Ini dibalas oleh data yang menunjukkan kenaikan kuat lain dalam kegiatan pengeboran di AS,” ujar pihak ANZ Bank.

Perusahaan energi AS menambah rig minyak selama minggu ke-13, memperpanjang pemulihan sembilan bulan usai pengebor mengambil keuntungan dari harga minyak mentah yang telah berada di level lebih dari US$50 per barel sejak Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sepakat untuk memangkas pasokan pada akhir November.

Perusahaan jasa energi Baker Hughes Inc menyatakan, perusahaan pengeboran menambah 17 rig minyak di minggu ke-3 Februari, sehingga total jumlah mencapai 583, tertinggi sejak Oktober 2015.

Meningkatnya produksi AS, yang dipimpin oleh perusahaan pengebor shale, meredupkan upaya yang dipimpin oleh OPEC dan produsen lainnya seperti Rusia untuk mengakhiri kelebihan pasokan global dengan memotong produksi mereka yang rata-rata direncanakan hampir 1,8 juta barel per hari (bph ) selama semester pertama tahun ini. (gir)