Ekonomi — Harga Minyak Bergerak Variatif di Tengah Ragam Sentimen

Galih Gumelar, CNN Indonesia
Selasa, 07/03/2017 08:23 WIB
Harga Minyak Bergerak Variatif di Tengah Ragam Sentimen Harga Brent menguat sementara harga West Texas Intermediate melemah pada penutupan perdagangan Senin (6/3) kemarin. (www.conocophillips.com)
Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak acuan bergerak variatif seiring banyaknya sentimen yang mempengaruhi perdagangan pada hari Senin (6/3) waktu Amerika Serikat. Tercatat, harga Brent menguat sementara harga West Texas Intermediate melemah.

Dikutip dari Reuters, salah satu sentimen yang memperkuat peningkatan harga Brent adalah kabar keikutsertaan Irak dalam perpanjangan pemangkasan produksi organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang direncanakan pada semester kedua tahun ini.

Namun, Menteri Minyak Irak Jabbar Al-Luaibi mengatakan, saat ini masih terlalu dini untuk menilai kelanjutan kebijakan pemangkasan produksi tersebut.

“Ini tergantung dari harga minyak dan stabilitas pasar. Jika OPEC akan membatasi produksi kembali, maka Irak akan ikut,” jelasnya.

Sebagai informasi, Irak sepakat untuk mengurangi produksi sebesar 210 ribu barel per hari sesuai kesepakatan OPEC. Namun, produsen minyak terbesar kedua di antara kartel minyak itu ingin dikecualikan dari kebijakan pembatasan produksi, mengingat negara teluk Arab itu masih butuh uang demi menumpas Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Di sisi lain, sentimen yang membuat harga West Texas Intermediate terkerek ke bawah adalah prediksi International Energy Agency (IEA) akan kenaikan produksi minyak non-konvensional AS dan penurunan permintaan produk pengilangan dari Eropa.

Menurut laporan tersebut, produksi minyak non-konvensional AS akan bertambah 1,4 juta barel per hari pada tahun 2022 dengan harga di kisaran US$60 per barel. Bahkan, pertumbuhannya bisa mencapai 4 juta barel per hari jika harga minyak mencapai US$80 per barel.

Apalagi, permintaan minyak diprediksi melemah setelah China menurunkan target pertumbuhan ekonomi dari 6,7 persen tahun lalu menjadi 6,5 persen di tahun 2017.

Hasilnya, harga West Texas Intermediate menurun US$0,13 per barel ke angka US$53,20 per barel sementara harga Brent menguat tipis US$0,11 per barel ke angka US$56,01 per barel.

Harga minyak terombang-ambing selama 60 hari seiring kecemasan pelaku pasar bahwa peningkatan produksi minyak AS akan meredam dampak pembatasan produksi OPEC. Untuk itu, pelaku pasar menanti ramalan produksi dari berbagai negara-negara penghasil minyak jelang pertemuan antar pemimpin sektor hulu migas di konferensi energi CERAweek yang berlokasi di Houston, AS. (gen)