Ekonomi Bisnis — Jakarta Concord Pintu Masuk RI Perluas Pasar Ekspor

Kamis 09 Mar 2017, 08:13 WIB

Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta Concord Pintu Masuk RI Perluas Pasar EksporFoto: Hary Lukita Wardani/detikcom

Jakarta – Lewat komitmen Jakarta Concord di antara negara-negara Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (IORA), kendala untuk meningkatkan perdagangan diyakini bisa teratasi.

Kemampuan Indonesia yang lebih mumpuni di bidang kemaritiman bakal memudahkan Indonesia melakukan penetrasi pasar baru tujuan ekspor sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukito.

Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kemenko Maritim, Arif Havas Oegroseno, menuturkan tanggal 9 dan10 Mei 2017 nanti, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah konfrensi ekonomi biru (blue Economy). Hal ini tak terlepas dari kemampuan lebih Indonesia di bidang kemaritiman yang diakui di kawasan IORA.

“Nah ini semua akan meningkatkan penetrasi Indonesia di negara-negara Afrika dan Asia Selatan. Profil Indonesia di kawasan Afrika akan semakin meningkat. Sehingga kita bisa menggunakan ini untuk penetrasi perdagangan Indonesia di Afrika yang masih ketinggalan dengan negara lain,” kata Havas dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/3/2017).

“Kita juga akan mengusulkan suatu jaringan pelabuhan di kawasan Samudra Hindia, nanti kita akan ada pelabuhan di sana, nanti pelabuhan baru di Kuala Tanjung, ada pelabuhan di Padang, pelabuhan yang bisa bisa network, sehingga nanti bisa punya mekanisme akses langsung ke pelabuhan-pelabuhan di Afrika,” lanjutnya.

Selain jaringan pelabuhan di Samudra Hindia, Indonesia juga akan membuat kerja sama bidang kepabeanan di seluruh kawasan Samudra Hindia. “Kita jadi mengerti sistem bea cukai di Samudra Hindia, termasuk tarifnya, kita juga mengerti nanti barang-barang mana bisa masuk ke kawasan itu, sehingga kita bisa melakukan assestment, kalau tarif terlalu tinggi kita bisa minta tarif turun atau kita langsung masuk investasi,” imbuhnya.

Sinergitas antar lembaga negara menurutnya juga akan dilakukan untuk menyukeskan tujuan tersebut. “Kementerian Perdagangan menjadi bagian dari kita juga, akan bersinergi dengan Kemenko Maritim untuk menentukan produk apa kita bisa ekspor ke negara IORA. Kemendag melakukan pemetaan produk dan negara mana saja, kemudian Kemenko Maritim untuk jalurnya. Kita juga bersinergi dengan BKPM, karena kita juga ingin melakukan investasi,” ucap Havas.

Pembicaraan bilateral antar negara anggota IORA saat ini sejatinya sudah dimulai pemerintah. Perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement bahkan menjadi salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan bilateral antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengatakan ada berbagai alasan Indonesia dan Sri Lanka bersepakat membahas free trade agreement. Salah satunya bisa menekan harga barang, baik yang masuk dari Indonesia maupun sebaliknya.

Enggar menuturkan, produk Indonesia ke Sri Lanka selama ini terbatas atau belum maksimal karena tarif atau bea yang tinggi. Padahal Indonesia memiliki keunggulan dalam komoditas atau barang yang masuk Sri Lanka. Beberapa produk Indonesia yang telah masuk Sri Langka adalah tembakau untuk pembuatan rokok, makanan, minuman, mobil, dan masih banyak lagi. Neraca dagang Indonesia terhadap Srilangka sendiri tercatat surplus hingga US$ 200 juta.

Dalam perdagangan internasional salah satu yang menjadi isu yang disoroti Indonesia adalah soal tarif ekspor antar negara yang begitu tinggi. “Kita itu hambatannya adalah untuk tarif untuk ekspor kita yang masih cukup tinggi. Karena memang kita tidak ada, perjanjian perdagangan di antara kita (negara IORA). Misalnya untuk otomotif saja kita kena 20 hingga 40 persen tarifnya,” tutur Enggar.

Jokowi juga akan melakukan kunjungan langsung ke Afrika Selatan dan ke seluruh negara Anggota IORA untuk membicarakan hal itu. Pemerintah Indonesia sendii sudah diundang melakukan pembicaraan bilateral untuk peningkatan hubungan dagang dengan Tanzania, Somalia, dan India.

Ekonom Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, menuturkan dalam Jakarta Concord, konsep blue economy yang bisa menjadi acuan untuk memacu Indonesia meningkatkan nilai tambah produk-produk unggulan, misalnya produk perikanan dan maritim Indonesia. Hal ini juga akan mendorong pengelolaan sumber daya alam secara efisien melalui kreativitas dan inovasi teknologi yang bakal menarik investasi masuk.

Sementara terkait Blue Economy, ada beberapa peluang yang dapat dikerjasamakan, di antaranya perikanan dan kelautan, logistik kelautan, teknologi kelautan, pariwisata, perkapalan, dan industri pengolahan hasil laut. Sejauh ini, peluang kerja sama di sektor-sektor industri tersebut memang belum digarap dengan optimal.

Dilihat dari negara-negara yang tergabung di IORA, saingan terberat Indonesia, termasuk untuk produk perikanan dan martim di antaranya Malaysia, India, dan Singapura yang memiliki teknologi perikanan yang modern. Begitu juga dengan Australia yang memiliki sumber daya dan keungulan teknologi.

Neraca perdagangan Indonesia dengan Australia contohnya, selama tahun 2010-2011 memang sempat mengalami surplus, masing-masing US$ 145,3 juta dan US$ 405,4 juta. Namun, selama tahun 2012-2015, neraca perdagangan Indonesia dengan Australia justru terus mengalami defisit, dari US$ 392,2 juta sampai US$ 1,1 miliar di 2015.

Berdasarkan data UN Comtrade, terlihat beberapa tahun terakhir untuk sejumlah komoditas pangan utama Indonesia masih lebih banyak melakukan impor dari Australia seperti daging, gula dan garam. Begitu juga dengan komoditas tekstil dan produk tekstil seperti katun dan sutera.

Dengan sejumlah kesepakatan di IORA, Indonesia bisa melebarkan sayap perdagangan ke sejumlah negara di Afrika yang masih memiliki daya beli seperti Afrika Selatan dan memperbaiki neraca perdagangan secara umum. (wdl/wdl.

Source : detik.com