Dicari Terobosan Policy!

Duwi Setiya Ariyanti, Annisa L Ciptaningtyas Jum’at, 27/05/2016 02:53 WIB

arunLapangan Arun – Aceh

 

JAKARTA — Perusahaan minyak dan gas bumi memilih untuk memangkas investasi selama lima tahun ke depan, sehingga dibutuhkan terobosan dalam pengelolaan sektor migas.

Berdasarkan hasil survei terbaru Price waterhouse Coopers (PwC), secara umum keinginan investasi di sektor hulu migas di Indonesia masih stagnan.

Penyebabnya, 65% responden menilai keinginan berinvestasi turun, 22% me  nilai keinginaninvestasitetap sama, danhanya 13% responden yang menilai keinginan investasi meningkat.

Di sisi lain, kebutuhan belanja modal perusahaan migas cenderung turun. Tercatat, 50% responden memilih untuk mengurangi belanja modal dan hanya 5% yang mengalami penaikan secara signifikan. Sisanya, 22% responden tetap menaikkan angka kebutuhan modal serta 23% menilai kebutuhan modal hingga 5 tahun ke depan akan tetap sama berkenaan dengan harga minyak yang rendah.

Padahal pada hasil survei 2015 ,hanya 21% responden yang ingin me nurunkan kebutuhan modal. Mayoritas responden pun (91%), dari 75 responden yang mewakili 53 perusahaan migas, meyakini lapangan kerja di industri migas  bakal makin susut pada tahun ini.

Lead Advisor for Energy, Utilities & Mining PwC Sacha Winzenried mengatakan, sejauh ini pemerintah telah berupaya mengundang  investor untuk memacu kegiatan eksplorasi dan produksi migas. Dari hasil survei, investor menginginkan harmonisasi kebijakan migas yang lebih baik untuk menyelaraskan regulasi di Kementerian ESDM dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Lingkungan Hidup yang belum sejalan.

“Investor menginginkan harmonisasi yang lebih baik antara peraturan-peraturan untuk sektor minyak dan gas di seluruh kementerian yang relevan,”ujarnya di sela-sela acara Konvensi dan Pameran Indonesian Petroleum Association(IPA), Kamis (26/5).

Dia menilai, saat ini dana investasi di sektor hulu migas Indonesia sedikit. Sementara, Indonesia harus bersaing  mendapatkan dana investasi. Poin-poin yang membuat Indonesia masih cukup atraktif bagi investor yakni peluang secara geologi, tenaga kerja yang terlatih, dan kemudahan kepemilikan asing. Beberapa hal yang masih menjadi penghambat yaitu stabilitas politik, peraturan, dan infrastruktur.

Hasil survei menilai tantangan utama industri hulu migas Indonesia yaitu kepastian perpanjangan kontrak, inkonsistensi dan ketidakpastian sistem pengembalian biaya operasi (cost recovery), Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi menjelaskan masalah di industri migas terkadang tak hanya berasal dari hal-hal substansial karena masalah sederhana, seperti pembagian koordinasi hingga komunikasi, bisa menjadi penghambat berjalannya proyek.

“Dulu jangka waktu dari discovery sampai produksi sangat pendek. Periode dari tanda tangan kontrak sampai discovery saja saat ini panjang sekali. Yang menarik juga saat ini discovery-nya kecil-kecil.”

Menteri ESDM Sudirman Said mengakui koordinasi beberapa sektor tak berjalan mulus, seperti menyinergikan SKK Migas dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas yang baru berjalan lebih baik dalam kurun waktu 20 bulan ini. Menurutnya, hal seperti itu merupakan hal yang wajar selama perubahan ke arah yang positif dilakukan.

President Indonesian Petroleum Association  Christina Verchere mengatakan, kunci untuk menjalankan usaha hulu migas adalah kepastian, konsistensi,dan fleksibilitas.

MASA TRANSISI

Kontraktor, katanya, memiliki lebih banyak pilihan tujuan berinvestasi bila Indonesia tak mencoba mendengar kesulitan usaha ying terjadi. Masa transisi juga menyumbang ketidakpastian yang harus turut diperhitungkan.

Pemangkasan investasi juga dilakukan BP Indonesia yang akan melakukan penyesuaian nilai investasi dalam pengembangan kilang gas di proyek Train III Tangguh, Papua berkenaan dengan harga minyak.

BP Indonesia memangkas dana investasi dari US$12 miliar menjadi sekitar US$8 miliar hingga US$10 miliar. Country Head BP Indonesia Dharmawan Samsu mengatakan harus membuat penyesuaian terhadap rencana investasi akibat penurunan harga minyak. Pada 2015, perusahaan itu menghitung investasi proyek Kilang Tangguh Train III US$12 miliar. Pemangkasan investasi, katanya, ber tujuan agar proyek tetap berjalan sesuai dengan kondisi pasar terkini.

Implikasi harga minyak,katanya,turut memangkas biaya jasa penger jaan proyek.

“Dengan kondisi dari harga minyak dunia, market pun menyesuaikan.Nilai penawaran mereka menyesuaikan,”ujarnya.

Terlepas dari perubahan tersebut, Dharmawan menyebut target untuk masuk ke tahap keputusan final investasi (final investment decision/FID) masih sesuai rencana awal. BP menargetkan pertengahan tahun ini akan menyampaikan FID proyek yang akan dimanfaatkan 75% untuk menyuplai kebutuhan listrik.

Sejauh ini, komitmen pembelian baru datang dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan ekspor ke perusahaan asal Jepang Kansai Electric sebesar 1 juta ton per tahun. Proyek yang semula ditargetkan rampung pada 2018 itu pun juga molor hingga 2020.

Deputi Pengendalian Perencanaan SKK Migas Gunawan Sutadiwiria mengatakan, revisi investasi dalam rencana kerja dan perencanaan (workplan and budget/WP&B) 2016 baru dilakukan pekan ini. Hingga saat ini belum terdapat laporan adanya perubahan investasi dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) berkenaan dengan harga minyak.

Revisi WP&B tergolong lebih cepat dikarenakan adanya kemungkinan harga minyak akan membaik.