DATA PASOKAN MENINGKAT – Harga Minyak Tergelincir

JAKARTA – Minyak mentah kembali menurun seiring dengan naikknya persediaan Amerika Serikat ke level tertinggi selama lebih dari delapan dekade terakhir. Tren harga ke depan diprediksi masih bearish akibat berlebihnya suplai sekitar 2 juta barel per hari.

Pada perdagangan Kamis (13/4) pukul 16.59 WIB harga minyak Brent kontrak Juni 2016 turun 0,1 poin atau 0,23% menjadi US$44,07 per barel. Sedangkan minyak WTI kontrak Mei 2016 berada di level US$41,7 per barel, melemah 0,06 poin atau 0,14%.

Laporan U.S Energy Information Administration (EIA) menampilkan, persediaan minyak Paman Sam secara mingguan sampai Jumat (8/4) mencapai 536,531 juta barel. Angka tersebut naik 1,25% atau 6,63 juta ton dibandingkan dengan pekan sebelumnnya sejumlah 529,897 juta ton dan mencatatkan level tertinggi sejak 1930 silam.

Dalam periode yang sama, produksi minyak mentah harian AS merosot 31.000 barel per hari menjadi 8,98 juta barel per hari. Angka tersebut berada dibawah posisi 9 juta barel per hari pertama kalinya sejak Oktober 2014.

Meskipun demikian, pasar mendapatkan sentimen pendorong dari rencana pertemuan di Doha antar negara produsen minyak pada 17 April 2016. Langkah tersebut bertujuan mengurangi berlebihnya pasokan yang diprediksi mencapai 2 juta barel per hari.

Dalam publikasinya, EIA memproyeksikan produksi AS bakal menurun, dari 9,4 juta barel per hari pada 2015 menjadi 8,6 juta barel pada 2016 dan 8 juta pada 2017. Adapun rerata output Maret 2016 sudah terkoreksi 90.000 barel per hari dibandingkan dengan Februari.

Chief Strategist CMC Markets di Sydney Michael McCarthy menuturkan, pertemuan Doha bakal menjadi kunci kelanjutan pergerakan harga minyak mentah. Namun, potensi reli harga secara signifikan belum akan terjadi mengingat masih banyaknya tingkat suplai dibandingkan permintaan.

Sejumlah analis juga memprediksi pertemuan Doha tidak akan terlalu berefek pada pemangkasan produksi ataupun pasokan yang berujung pada membaiknya harga.

Pada Selasa (12/4), harga minyak menembus posisi US$42 per barel, yang menjadi pencapaian tertinggi sepanjang 2016. Namun, sejumlah analis juga memprediksi pertemuan Doha tidak akan terlalu berefek pada pemangkasan produksi ataupun pasokan yang berujung pada membaiknya harga.

PEMBEKUAN PRODUKSI

OPEC dalam Monthly Oil Market Report April 2016 menyampaikan, nilai OPEC Reference Basket (ORB) naik lebih dari 20% secara bulanan pada Maret. Sentimen utama yang menopang kenaikan harga ialah rencana pembekuan produksi dari negara-negara eksportir utama.

Dukungan menghijaunya harga juga berasal dari menurunnya produksi harian di AS dan beberapa wilayah lain. Akan tetapi, kelebihan pasokan masih membayangi aksi reli harga lebih lanjut.

Pada Maret 2016, ORB meningkat US$5,93 per barel menuju US$34,65 per barel. Namun, secara tahunan (y-o-y) angka tersebut menunjukan kemerosotan sebesar 40,4%.

Minyak Brent di Inter Continental Exchange (ICE) bertumbuh  US$6,26 per barel untuk mencapai US$39,79 per barel, atau anjlok 35% secara tahunan. Adapun harga WTI di Nymex melonjak US$7,34 per barel menjadi US$37,96, tetapi jatuh 31% secara tahunan.

Dari segi permintaan, OPEC memprediksi rerata konsumen minyak mentah global pada 2016 mencapai 94,18 juta barel per hari. Angka tersebut menurun 1,2 juta barel per hari dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya, seiring dengan masih melambatnya pertumbuhan ekonomi di wilayah Amerika Latin.

Adapun pada tahun lalu, total penyerapan minyak mentah dunia bertumbuh 1,54 juta barel per hari menuju 92,98 juta barel per hari.

Dari sisi suplai, tahun ini pertumbuhan pasokan dari negara non-OPEC diprediksi akan menurun 0,73 juta barel per hari menjadi 56,39 juta barel per hari. Sejumlah negara yang memangkas produksinya ialah China, Kolombia, Kanada, Norwegia, dan Rusia.

Sementara dari anggota OPEC, bulan lalu menaikkan produksi sebanyak 150.000 barel menuju ke 32,25 juta barel per hari. Total rerata pasokan minyak mentah pada Maret 2016 bertambah 0,17 juta barel per hari menjadi 95,68 juta barel per hari.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, menguatnya harga WTI pada Selasa (12/4) ke level US$42 per barel terjadi karena terdapat laporan Aran Saudi dan Rusia mencapai kesepakatan pembekuan produksi minyak, sehingga melahirkan optimisme pasar akan adanya solusi untuk masalah over suplai.

“Namun, karena sumber laporan ini belum diketahui, hal tersebut mungkin saja merupakan siasat anggota OPEC untuk mengeksploitasi volatilitas pasar dan membuat dorongan spekulatif harga minyak tanpa ada niat untuk benar-benar melaksanakan pemberkuan atau pemotongn level produksi,” ujarnya melalui siaran pers, Kamis (14/4).

Menurutnya, sentimen terhadap WTI akan bearish apabila rapat di Doha tidak membuahkan hasil. Investor berpotensi melakukan aksi penjualan besar-besaran, sehingga harga minyak kembali ke posisi US$ 35 per barel.(Bloomberg)

Hafiyyan (redaksi@bisnis.com)

Source : Bisnis Indonesia – 15 April 2016