Data AS Bikin Harga Minyak Reli 7 Sesi

Harga Minyak WTI – Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak mentah mengalami kenaikan dalam 7 sesi berurut-turut akibat berkurangnya suplai dari Amerika Serikat.

Pada penutupan perdagangan Jumat (30/6/2017) harga minyak WTI kontrak Agustus 2017 meningkat 1,11 poin atau 2,47% menuju US$46,04 per barel. Sementara minyak Brent kontrak Agustus 2017 menguat 1,14 poin atau 2,39% menjadi US$48,77 per barel.

Angka tersebut menujukkan kenaikan dalam 7 sesi berturut-turut. Namun demikian, sesungguhnya harga minyak WTI dan Brent sudah merosot 14,47% serta 14,17% pada semester I/2017. Ini merupakan penurunan paruh pertama pertama setahun sejak 1998.

Harga minyak kembali menguat setelah pasar merespons laporan kinerja mingguan minyak AS. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) yang dilansir pada Rabu (28/6/2017) waktu setempat menunjukkan stok minyak AS sepekan yang berakhir Jumat (23/6/2017) naik 118.000 barel menuju 509,2 juta barel.

Sementara itu, tingkat produksi dalam waktu yang sama turun 100.000 barel per hari (bph) menjadi 9,25 juta bph. Ini merupakan penurunan terbesar sejak Juli 2016.

Adapun persediaan bensin turun 900.000 barel. Penurunan persediaan menunjukkan adanya peningkatan sisi permintaan.

Kendati data AS direspons positif, pasar masih mengantisipasi lonjakan pasokan lanjutan dari Paman Sam. Pasalnya volume produksi minyak shale negara tersebut mendekati tingkat produksi dua eksportir minyak utama, yakni Rusia dan Arab Saudi.

Daniel Hynes, analis Australia & New Zealand Banking Group Ltd menyampaikan harga minyak memanas karena produksi AS yang menurun akibat adanya pemeliharaan lapangan di Alaska dan badai tropis Cindy. Selain itu, OPEC dan sekutunya berencana mengadakan pertemuan bulan depan.

“Ada tanda fundamental mengalami perbaikan. Proses pengetatan juga masih menuju paruh kedua 2017,” tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (2/7/2017).

Namun demikian, pasar tidak sabar menantikan volume suplai yang seimbang dengan jumlah permintaan. Oleh karena itu, harga minyak mentah masih berada di dalam tren tertekan.

Data Barker Hughes Inc perihal jumlah rig turut memberikan sentimen positif bagi pasar minyak. Pada pekan yang berakhir Jumat (23/6/2017), jumlah rig AS turun 2 buah menjadi 756 rig. Ini merupakan penurunan pertama setelah mengalami peningkatan dalam 23 pekan atau sejak Januari 2017.

Dikutip dari Reuters, analysts energy specialists Simmons & Co Piper Jaffray menyampaikan jumlah total rig minyak dan gas bumi rata-rata akan mencapai 883 buah pada 2017, 1.101 rig pada 2018 dan 1.212 rig pada 2019. Sebagian besar sumur menghasilkan minyak dan gas.

Saat ini, jumlah rig mencapai 819 buah sepanjang 2017, 509 rig pada 2016, dan 978 rig pada 2015. Jika benar, proyeksi Simmons pada 2019 akan menjadi angka tertinggi sejak 2014 ketika ada 1.862 rig aktif. Menurut Baker Hughes, jumlah rig memuncak pada 2012 di jumlah 1.919 sumur.

Source : bisnis.com