Cukai BBM untuk Bantu Danai EBT

Rabu, 30 Maret 2016 03:00 WIB – Penulis: Jessica Sihite.
Cukai BBM

ANTARA/YUSRAN UCCANG

NIAT pemerintah untuk menerapkan cukai pada bahan bakar minyak (BBM) diyakini bakal mendorong perkembangan energi baru terbarukan (EBT) di Tanah Air. Pasalnya, dana dari cukai yang diterapkan untuk BBM dengan kategori produk yang tidak ramah lingkungan bisa dipa­kai mendanai pengadaan EBT.

“Bisa diasumsikan itu untuk mendorong EBT yang tidak kena pajak, sehingga ada perbedaan harga antara fosil dan EBT,” ucap Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (29/3).

Menurut dia, pengenaan cukai sudah diterapkan di negara-negara maju. Kebijakan itu juga bisa mendorong program konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG). Saat ini, pihaknya masih kesulitan mendorong konversi BBM ke BBG karena selisih harga keduanya tidak terlampau jauh. Saat ini, harga BBG Pertamina, Vi-Gas, sebesar Rp5.100 per liter. Sementara itu, harga premium saat ini Rp7.050 per liter dan solar Rp5.950 per liter. “Kalau ada tax, kita berharap harga BBM jadi lebih tinggi lagi,” cetusnya.

Namun, Direktur Eksekutif Re­forminer Institute Komaidi Notonegoro menyarankan dua pajak da­lam komponen harga BBM dipakai untuk alokasi EBT. “PPN (pajak pertambahan nilai) dan PBBKB (pajak bahan bakar kendaraan bermotor) bisa dialokasikan ke EBT,” katanya.

Di kesempatan terpisah, peneliti senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menekankan asas kehati-hatian bagi pemerintah dalam membuat kebijakan strategis seperti cukai BBM itu. “Jika diberlakukan, impak terhadap ekonomi rakyat sangat besar. Pemerintah mesti mengawasi ketat implementasinya,” katanya.

Sementara itu, terkait penurunan harga BBM nonsubsidi, Ahmad Bambang menyatakan besaran penu­runan sebesar Rp200 per liter dan berlaku per 30 Maret 2016 pu­­kul 00.00. Kecilnya besaran penurunan itu untuk mencegah penaikan kembali harga di saat terjadi lonjakan harga mi­nyak men­tah (crude) pada Juli-September 2016. “Kalau periode tiga bulan dipegang, harga BBM boleh turun di April, tapi tidak usah banyak. Nanti Juli tidak usah naik, meski kami rugi, tapi itu bisa di­tutup dari keuntungan saat ini. Jadi ketika Lebaran, puasa, dan liburan sekolah, masyarakat tidak terbebani penaikan harga BBM.”

Pihaknya juga mengantisipasi tren kekosongan stok BBM di SPBU saat penurunan harga dengan menanggung selisih harga untuk BBM yang masih ada di SPBU saat harga baru berlaku.

Penyerapan biodiesel naik

Di sisi lain, program campuran wajib 20% biodiesel berbasis minyak kelapa sawit dalam setiap liter solar (mandatori B-20) mulai berjalan. Selama Januari dan Februari 2016, penyerapan biodisel oleh Pertamina mencapai 519 ribu kiloliter (kl).

“Penyerapan biodiesel pada Februari 2016 meningkat 30,5%, dari 225 ribu kl pada Januari lalu meningkat menjadi 294 ribu kl pada Februari. Penyerapan mungkin sesuai target,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (29/3).

Dari target penyerapan biodiesel nasional 3,2 juta kiloliter (kl), Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) memperkirakan Pertamina bisa menyerap hingga 2,5 juta kl. (Arv/E-4)

Source : mediainonesia.com