Cadangan Minyak Nasional : Perlu Dana Rp 7 Triliun Per Tahun

JAKARTA – Untuk menghimpun cadangan penyangga minyak nasional sebanyak 22,5 juta barel guna memenuhi kebutuhan konsumsi bahan bakar minyak selama 15 hari, dibutuhkan dana Rp7 triliun-Rp 8triliun selama 3 tahun.

Pemerintah menegaskan akan menghimpun cadangan penyangga minyak nasional dalam 2-3 tahun mendatang. Rencana tersebut sekaligus menurunkan target sebelumnya sebanyak 45 juta barel untuk kebutuhan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Tanah Air selama 30 hari.

Saat ini, Indonesia tidak memiliki cadangan penyangga minyak. Sementara itu, cadangan BBM saat ini merupakan milik Pertamina yang rerata untuk kebutuhan 22 hari.

Mentei ESDM Sudirman Said menjelaskan, Kementerian ESDM akan mulai menyiapkan dana untuk membangun cadangan minyak nasional tersebut.

“Untuk cadangan (minyak) selama 15 hari memakan waktu 2 tahun – 3 tahun,  ujarnya pekan lalu.

Sudirman menjelaskan, pemerintah akan melontarkan rencana pembangunan cadangan minyak ini dalam pembahasan APBN-P 2016.

Dia mengakui, keterbatasan fiskal saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan dana sebesar Rp 23 triliun selama 3 tahun. Namun, menurutnya, dana untuk cadangan minyak nasional harus dianggarkan berapapun nilainya.

Penurunan harga BBM mulai 1 April tidak akan mengikuti harga keekonomian.

Pemerintah juga akan membangun tangki-tangki penyimpanan minyak. Saat ini, kapasitas tangki yang berada di dalam negeri hanya mampu menyimpan cadangan selama 10 hari atau sekitar 15 juta barel minyak. “Kalau lebih dari 10 hari, sementara disimpan di tempat minyak itu dibeli, tapi memerlukan negosiasi juga memperhatikan aspek keamanan.”

Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I.G.N. Wiratmadja menjelaskan dana Rp23 triliun akan diperoleh dari APBN dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). “Masih dibahas kami usulkan dari dana pemerintah.”

Dia juga menyebutkan pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan Iran dan Kuwait terkait dengan pembelian cadangan penyangga nasional.

“Yang sudah didiskusikan Iran dan Kuwait, mereka akan menaruh minyaknya di dalam negeri nanti kalau sudah dibutuhkan baru kami bayar.”

Sudirman menambahkan, PT Pertamina (Persero) sudah bersedia melakukan penghimpunan cadangan minyak nasional jika dana perseroan memungkinkan. Menurutnya, pemerintah akan mendorong Pertamina untuk meningkatkan cadangan minyak sehingga ketahanan energi semakin kuat.

Rl Jadi Net Importir Minyak 05

Sejak 2008, Indonesia merupakan negara net importir migas tetapi beberapa pihak masih merasa negeri ini kaya migas. Sementara itu cadangan migas dalam beberapa tahun terakhir terus turun. Target produksi atau lifting minyak juga tidak pernah tercapai dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, salah satu upaya Pertamina untuk meningkatkan cadangan minyak dengan meningkatkan kemampuan eksplorasi di huhi sehingga produksi minyak semakin tinggi. Selain itu, pihaknya juga akan mengembangkan bisnis di luar negeri “Kami akan melakukan penguasaan cadangan di luar negeri dalam bentuk minyak mentah.”

Dia menyebutkan, untuk penyimpanan, pihaknya sudah memiliki cadangan operasional baik untuk minyak mentah mau pun BBM masing-masing cukup untuk kebutuhan selama 20 hari.

“Kalau cadangan terlalu besar ada di Pertamina. nanti beban biaya Pertamina tinggi. Oleh karena itu, untuk cadangan strategis akan di-handle negara.”

HARGA BBM

Sementara itu, pemerintah dipastikan menurunkan harga Premium dan Solar bersubsidi mulai 1 April.

Kementerian ESDM akan mengusulkan kepada DPR untuk mulai mengurangi subsidi Solar Saat ini, subsidi Solar Rp. 1.000 per liter.

Pengurangan atau penghapusan subsidi Solar tersebut bertujuan untuk mengalihkan dana itu ke dalam sektor lain yang lebih produktif.  Alokasi subsidi Solar dalam APBN 2016 sebesar 16 triliun.

“Karena harga minyak sekarang kondisinya sedang turun kami mengusulkan ke DPR apakah APBN-P nanti bisa penggeseran subsidi. Masih ada Rp 1.000 per liter (Solar) yang jumlahnya hampir Rp16 triliun untuk mempercepat program lain,” kata Sudirnan Said.

Kepala  Pusat  Komunikasi Publik Kementerian ESDM Sujatmiko menjelaskan, pengurangan dana subsidi Solar nantinya akan dialokasikan ke program lain guna memperkuat ketahanan energi, termasuk dana ketahanan energi (DKE).

Pertamina mencatat, realisasi konsumsi Solar bersubsidi pada tahun lalu hanya 13,97 juta kiloliter turun 12,4% dari realisasi 2014 sebanyak 15,95 juta kl.

Sudirman menjelaskan, pemerintah memutuskan untuk tidak menurunkan harga BBM sesuai dengan harga keekonomian mulai awal bulan depan.

Dia menjelaskan, pemerintah memutuskan untuk menjaga stabilitas harga sehingga tidak menurunkan harga sesuai dengan harga keekonomian.

“Yang pasti, pemerintah ingin menjaga stabilitas harga BBM agar tidak terjadi gejolak harga yang dapat merugikan masyarakat.”

Selisih harga tersebut akan disimpan jika sewaktu-waktu harga BBM naik signifikan.”Ada formula yang ada simpanan, jaga-jaga kalau Juli harganya naik maka masyarakat tidak dibebani kenaikan tajam.”

Sudirman menyebutkan penurunan pada 1 April nanti cukup signifikan dibandingkan dengan penurunan sebelumnya.

“Kalau 1 April turun jauh, sedangkan sekarang harga crude (minyak mentah) terus naik, dikhawatirkan pada periode 3 bulan berikutnya (April-Juli) malah terjadi kenaikkan harga. Yang diperlukan masyarakat itu stabilitas,” tutur Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang. (David Eka Issetiabudi)

Source : Bisnis Indonesia-28 Maret 2016