Brent Memanas, Dekati Level US$60/Barel

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak Brent ditutup pada level tertinggi dalam dua tahun terakhir pada perdagangan Kamis, (26/10/2017), mendekati US$60 per barel, setelah Putra Mahkota Arab Saudi mendukung perpanjangan pemotongan output OPEC.

Brent, patokan minyak mentah dunia, untuk kontrak Desember ditutup menguat 1,6% atau 0,86 poin ke level US59,30 per barel, tertinggi sejak Juni 2015, di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember menguat 0,46 poin ke level US$52,64 per barel di New York Mercantile Exchange, tertinggi sejak April.

Seperti dilansir Bloomberg, Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia ingin kesepakatan pemangkasan produksi OPEC diperpanjang setelah Maret 2018. Komentarnya tersebut sejalan dengan Presiden Vladimir Putin yang mengatakan bahwa Rusia terbuka untuk memperpanjang kesepakatan sampai akhir tahun depan.

“Saudi tetap konsisten dengan keinginannya untuk memperpanjang pengurangan produksi, dan melanjutkan pengurangan bertahap persediaan minyak mentah global,” ungkap Michael Hiley, kepala perdagangan energi LPS Partners, seperti dikutip Bloomberg.

Tanda-tanda bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutu-sekutunya mungkin setuju untuk memperpanjang kesepakatan pengurangan produksi pada pertemuan di Wina akhir bulan depan telah membantu minyak AS bertahan di atas US$50 dan Brent di atas US$55 sepanjang bulan ini.

“Kabar dari OPEC pasti mendukung. Dapat dikatakan bahwa mereka telah mendapatkan kembali kepercayaan pasar. Mereka telah mendapatkan kredibilitas dengan kepatuhan,” kata Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group Inc, Kamis (26/10/2017).

“Namun, produsen minyak shale masih akan meningkatkan produksi. Masih ada beberapa keraguan di pasar,” lanjutnya.

Output minyak mentah AS naik paling banyak sejak 2012 pekan lalu karena pengebor minyak shale menuai hasil dari penigkatan pengeboran yang dimulai pada bulan Mei tahun lalu. Walaupun mereka mengurangi jumlah rig minyak akhir-akhir ini, banyak sumur bor belum yang belum beroperasi, yang berarti output masih akan meningkat.

Source : bisnis.com