Banyak Perusahaan Migas Kesulitan Keuangan, Ini Langkah ESDM

Michael Agustinus – detikfinance – Rabu, 20/04/2016 13:46 WIB

Pic 8Foto: Reuters

Jakarta -Jatuhnya harga minyak bumi dari kisaran US$ 100/barel pada 2014 hingga di bawah US$ 40/barel saat ini, membuat banyak perusahaan migas mengalami kesulitan keuangan.

Kondisi ini membuat perusahaan-perusahaan migas mau tak mau melakukan efisiensi besar-besaran, salah satunya dengan pengurangan jumlah pekerja. PT Chevron Pacific Indonesia misalnya, baru-baru ini menawarkan opsi pengunduran diri secara sukarela kepada para karyawannya.

Untuk membantu keuangan perusahaan-perusahaan migas yang menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Indonesia, Kementerian ESDM menyiapkan insentif.

“Kita lagi dalam pembahasan dengan IPA (Indonesian Petroleum Association) dan juga KKKS, dengan harga minyak yang lagi rendah ini apa yang bisa dilakukan. Apakah dalam bentuk Permen, atau Perpres, kita bahas,” kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, saat ditemui usai diskusi di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (20/4/2016).

Beberapa KKKS telah mengajukan permintaan insentif langsung ke Kementerian ESDM. Tetapi Wiratmaja enggan menyebutkan siapa saja KKKS yang dimaksud.

“Ada beberapa KKKS yang sudah minta extended exploration period. Ada yang sudah mengusulkan dynamic split. Detailnya belum bisa saya sampaikan,” ucapnya.

Salah satu insentif yang diminta KKKS adalah perpanjangan waktu eksplorasi. Sebab, eksplorasi untuk pencarian minyak dan gas membutuhkan investasi besar, sementara situasi sekarang membuat perusahaan migas mengetatkan pengeluaran.

Para KKKS ingin Kementerian ESDM bisa memberikan perpanjangan waktu eksplorasi, tapi tanpa mengurangi sisa waktu kontrak. Misalkan kontrak berdurasi 10 tahun, tinggal tersisa 3 tahun, KKKS bisa mendapat perpanjangan masa eksplorasi selama 2 tahun tetapi sisa kontraknya tetap 3 tahun hingga perpanjangan masa eksplorasi usai.

“Yang eksplorasi, kita lagi dibicarakan bagaimana bisa diperpanjang waktu eksplorasinya. Misalkan 6 tahun, karena posisi lagi begini dikasih perpanjangan lagi 2 tahun tetapi sisa kontraknya tidak berubah,” papar Wiratmaja.

Selain itu, KKKS juga mengusulkan pembagian hasil (split) yang lebih fleksibel. Jika harga minyak sedang anjlok, minyak bagian KKKS dapat diperbesar, tetapi kembali normal ketika harga minyak sudah naik lagi ke level tertentu. “Mereka juga mengusulkan dynamic split, itu dalam pembahasan,” Wiratmaja mengimbuhkan.

Semua insentif yang diusulkan oleh KKKS belum bisa dikabulkan pemerintah hingga saat ini karena perlu pembahasan antar instansi pemerintah, banyak hal juga yang perlu dipertimbangkan. “Masih dalam proses pembahasan, banyak dimensi, banyak kementerian yang terlibat. Banyak insentif yang kita bahas,” pungkas Wiratmaja.(wdl/wdl)

Source : detik.com