Bagian Kontraktor Di Blok East Natuna Diusul Lebih Tinggi

Duwi Setiya Ariyanti – Jum’at, 02/09/2016 03:11 WIB

b

Ekplorasi Migas

Bisnis.com, JAKARTA – Opsi bagian kontraktor yang lebih besar diusulkan dalam kontrak bagi produksi atau production sharing contract Blok East Natuna yang rencananya diteken pada September 2016.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan hingga saat ini pihaknya masih melakukan pembahasan dengan konsorsium yakni ExxonMobil dan PTT EP Thailand terkait target pemerintah agar production sharing contract (PSC) Blok East Natuna untuk struktur minyak bisa ditandangani pada September 2016.

Dia menilai struktur minyak yang memiliki potensi lebih kecil daripada gasnya mungkin saja dimulai terlebih dahulu kegiatannya. Kendati demikian, kecilnya potensi, lokasinya yang terpencil juga faktor kesulitan medannya menjadi pertimbangan utama konsorsium. Oleh karena itu, agar kegiatan berjalan sesuai skala ekonomi, usulan bagian kontraktor yang lebih besar menjadi salah satu opsi yang diajukan.

Menurutnya, pembagian hasil antara kontraktor dengan Pemerintah mungkin harus 60:40. Kendati bertindak sebagai pemimpin konsorsium, pihaknya masih membutuhkan waktu untuk kemungkinan tersebut.

“Salah satu opsi misalnya PSC-nya, 60:40, itu kemungkinan akan jalan. Ya tapi nanti itu masih dalam pembicaraan,” ujarnya di sela Rapat Kerja dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, Kamis (1/9/2016).

Selain itu, penerapan skema bagi hasil dinamis yang mengacu pada harga minyak pun masih mungkin diterapkan. Dia menganggap pemerintah berhati-hati untuk menerapkan skema seperti itu. Tak dipungkiri, ujar Dwi, unsur fleksibilitas dalam proyek tersebut akan sangat membantu mengerek naik skala ekonomi.

Lebih lanjut, pihaknya perlu menyepakati hal-hal dasar terlebih dahulu pada PSC yang akan ditandatangani September 2016 itu. Pasalnya, PSC tersebut masih belum mengakomodasi hasil kajian teknologi dan pasar (technology market review/TMR) yang memerlukan waktu sekitar 1,5 tahun untuk potensi gasnya.

“Paling enggak ada sesuatu yang disepakati dulu jadi tidak mundur lagi. Nanti yang belum disepakati, ditentukan di belakang .”

Dihubungi terpisah, Vice President Public&Government Affairs ExxonMobil Indonesia Erwin Maryoto mengatakan pihaknya sebagai anggota konsorsium masih berkomunikasi terkait keinginan pemerintah untuk mendahulukan pengelolaan struktur minyaknya. Pihaknya masih berproses guna menyepakati PSC baru Blok East Natuna sesuai dengan arahan pemerintah.

“Ini sedang dibicarakan dengan konsorsium. ExxonMobil, Pertamina dan konsorsium terus bekerja sama dengan pemerintah guna menyepakati kontrak kerja sama (PSC) baru untuk East Natuna,” katanya.

Pelaksana Tugas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pihaknya menginginkan agar di Natuna Timur bisa segera dilakukan kegiatan agar bisa menunjukkan kehadiran di wilayah terluar Indonesia itu.

Adapun, Natuna menjadi daerah strategis dan memiliki potensi besar di sektor migas. Seperti arahan Presiden Joko Widodo, pengembangan blok migas di Natuna mendesak karena menyangkut urusan pertahanan.

Luhut menilai pihaknya harus mengubah cara pandang pengelolaan migas tak lagi dibuat kaku tanpa mempertimbangkan kesulitan di lapangan. Oleh karena itu, hingga saat ini pihaknya masih melakukan pembicaraan dengan Kementerian Keuangan untuk memindahkan wewenang pemberian insentif ke Kementerian ESDM.

Alhasil, pihaknya bisa memberikan insentif untuk menggenjot kegiatan migas disesuaikan dengan kesulitan lapangannya. “Kami mencoba melihat setiap lapangan itu kesulitannya,” katanya.

Namun, pihaknya belum bisa menyebut berapa bagi hasil yang diterapkan pada pengelolaan blok ini. Dia mengakui blok tersebut memiliki kandungan karbondioksida yang tinggi dan membutuhkan biaya yang tinggi pula dengan besarnya potensi gas.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Blok East Natuna menyimpan potensi sebesar 222 trilion cubic feet (Tcf) dengan hanya 46 Tcf gas di antaranya yang bisa diproduksi. Pasalnya, 72% komposisinya adalah karbondioksida. Dengan demikian, diperlukan teknologi pemisahan juga injeksi karbondioksida yang bisa memproduksi secara efisien.

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Source : bisnis.com