Arcandra Tahar Endus Harapan ExxonMobil Garap Blok Natuna

Arcandra Tahar Endus Harapan ExxonMobil Garap Blok NatunaMenurut Arcandra, komitmen percepatan blok East Natuna sudah disampaikan ketika Senior Vice President ExxonMobil Mark W. Albers menyambangi kantornya. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)

Jakarta, CNN Indonesia — Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan akan ada titik terang ihwal pengembangan Blok East Natuna yang selama ini terhambat karena berbagai kendala.

Menurut Arcandra, komitmen percepatan blok East Natuna sudah disampaikan ketika Senior Vice President ExxonMobil Mark W. Albers menyambangi kantornya awal pekan lalu.

Komitmen tersebut, lanjutnya, diharapkan bisa diperoleh pemerintah melalui surat resmi dalam jangka waktu sebulan ke depan. Sayangnya, ia enggan memberitahu kabar baik yang dimaksud.

Selain itu, ia juga menampik jika kabar baik yang dimaksud adalah penandatangan kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) baru bagi East Natuna.

Sebelumnya, pemerintah berharap PSC blok East Natuna bisa dilakukan akhir tahun lalu dan diundur lagi ke awal tahun ini. Akhirnya, pemerintah memutuskan bahwa penandatangan PSC akan dilakukan setelah kajian pemasaran dan teknis (Technical and Market Review/TMR) rampung pada tahun ini.

There’s a good news untuk blok Natuna. Karena mereka janji dalam sebulan akan kirim surat resminya,” terang Arcandra ditemui di Kementerian ESDM, dikutip Kamis (20/4).

Di sisi lain, Arcandra bilang bahwa ExxonMobil masih mempertanyakan nasib PSC lamanya di blok tersebut ketika Wilayah Kerjanya (WK) masih disebut Natuna D Alpha. Ini masih dipermasalahkan meski pemerintah telah menunjuk PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan blok tersebut.

Untuk itu, ia berharap kunjungan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence dalam waktu dekat bisa membuat masalah ini clear. “Apa yang abu-abu akan dihitamputihkan. Itu good news-nya,” papar Arcandra.

Menurut data Kementerian ESDM, blok East Natuna memiliki volume gas di tempat (Initial Gas in Place/IGIP) sebesar 222 triliun kaki kubik (tcf), dan cadangan terbukti sebesar 46 tcf.

Di dalam pengembangannya, Pertamina menggandeng ExxonMobil dan PTT Exploration and Production (PTTEP) ke dalam satu konsorsium. Sayang, pengembangan blok East Natuna agak sulit mengingat kandungan karbon dioksidanya mencapai 72 persen. (gir)

Source : cnnindonesia.com