Arcandra Tahar: Biaya Eksplorasi Minyak Mahal

Martin Sihombing Kamis, 20/10/2016 19:40 WIB

Pelaksana Tugas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut B Panjaitan (kedua kanan) didampingi mantan Menteri Arcandra Tahar (ketiga kiri) berfoto dengan pegewai kementerian seusai peringatan Hari Jadi ke-71 Pertambangan dan Energi di Plaza Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (4/10). Dalam sambutannya, Luhut B Panjaitan mengingatkan seluruh pejabat maupun pegawai Kementerian untuk bekerja secara tim dan meminta tidak ada lagi hal yang menghambat pengambilan keputusan. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pd/16

Pelaksana Tugas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut B Panjaitan (kedua kanan) didampingi mantan Menteri Arcandra Tahar (ketiga kiri) berfoto dengan pegewai kementerian seusai peringatan Hari Jadi ke-71 Pertambangan dan Energi di Plaza Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (4/10).

Bisnis.com, PADANG – Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar mengatakan biaya untuk eksplorasi minyak dalam rangka mencari cadangan baru cukup mahal karena tingkat kesulitan yang tinggi dan harus menggunakan teknologi mutakhir.

“Sekali mencari minyak di laut dalam, satu bor biayanya bisa sampai 250 juta dolar Amerika Serikat (AS), biasanya dibutuhkan tiga sampai empat kali pencarian dengan total biaya mencapai Rp13 triliun,” kata dia di Padang, Sumatra Barat, Kamis (20/10/2016).

Ia menyampaikan hal itu dalam kuliah umum di Universitas Andalas (Unand) dengan tema “Kebijakan Strategis Industri Migas Indonesia Perspektif Ekonomi dan Teknologi”.

Oleh sebab itu, kata dia, minyak adalah rahasia Tuhan, sehebat apapun suatu perusahaan dengan teknologi canggih dan orang-orang terbaik dalam mencari minyak tingkat keberhasilannya dari lima kali mencari, satu kali dapat itu sudah hebat.

“Jika saat mencari tersebut ternyata tidak ditemukan minyak maka uang Rp13 triliun tadi sudah jadi abu, tidak berbekas sama sekali,” katanya.

“Pertanyaannya apakah ada orang Indonesia yang berani menanamkan uang Rp13 triliun dengan asumsi kalau dapat minyak oke, kalau tidak ketemu tidak apa-apa, hampir dipastikan tidak ada yang mau,” lanjutnya.

Ia mengatakan karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mencari minyak menyebabkan pihak yang berani melakukan itu dan siap dengan risiko kehilangan uang jika minyak tidak ditemukan adalah pihak asing.

“Kita butuh minyak, tapi tidak mau menanamkan uang di awal sebagai investasi, akhirnya pilihan jatuh pada investasi asing,” ujarnya.

Menurut dia eksplorasi minyak di Indonesia pada 2012 sekitar 70 namun hingga 2016 terjadi penurunan menjadi 16.

Ia mengatakan penyebab turunnya eksplorasi tersebut adalah pembubaran BP Migas serta adanya PP 79 tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang Dapat Dikembalikan dan Perlakuan Perpajakan Bagi Industri Hulu Migas.

“Jadi sewaktu kegiatan eksplorasi yang memiliki risiko tinggi, belum tentu perusahaan minyak dapat minyak sudah dikenakan pajak sehingga perusahaan asing memilih hengkang, katanya.

“Oleh sebab itu dalam waktu dekat kami akan merevisi PP 79 tahun 2010 tersebut agar eksplorasi meningkat,” lanjutnya.

Pada sisi lain ia menyebutkan saat ini Indonesia memiliki cadangan minyak sekitar 3,8 miliar barel dengan produksi sekitar 800 ribu barel.

“Beranjak dari kondisi ini maka minyak hanya bisa diproduksi sampai 12 tahun lagi, sementara cadangan minyak dunia sekitar 50 tahun lagi,” ujar dia.

Ia menyampaikan cadangan minyak yang dimiliki Indonesia saat ini yaitu Indonesia Deepwater Development (IDD) di Selat Makasar, Blok Masela dan beberapa di Natuna.

Sementara Rektor Unand Tafdil Husni mengatakan sektor tambang dan migas memiliki peran yang besar sebagai penyedia energi dan penyumbang devisa.

Ia menilai ke depan perlu dilakukan peningkatan nilai tambah produk migas sehingga lebih bernilai.

Source : bisnis.com