3 Alasan Harga Minyak Dunia Turun

Jumat 10 Mar 2017, 09:41 WIB

Ellen May – detikFinance

Jakarta – Dalam Fundamental Technical Alignment hari ini, saya bahas mengenai penyebab rendahnya harga minyak dunia saat ini, serta beberapa saham di sektor tersebut seperti ELSA, BIPI dan MEDC.

Baru-baru ini telah rilis data terbaru mengenai survei penjualan yang dilakukan oleh BI. Berdasarkan survei tersebut, ternyata Indeks Penjualan Rill Indonesia melambat menjadi 6,5% dibandingkan bulan Desember 2016 lalu yang mencapai 10,5%.

Lalu, bagaimana efek dari penurunan indeks tersebut? Apakah hal tersebut penyebab pergerakan IHSG yang cenderung stagnan akhir-akhir ini?

Pemanfaatan minyak bumi dalam kegiatan sehari-hari, terutama sebagai bahan bakar kendaraan, membuat minyak merupakan komoditas yang paling banyak dicari di seluruh dunia. Belum lagi, dikarenakan harganya yang cukup mahal membuat minyak mentah ini disebut sebagai emas hitam.

Namun, akhir-akhir ini harga minyak sudah jatuh hingga ke level US$ 50, yang beberapa tahun sebelumnya sempat menyentuh harga US$ 100.

Sebenarnya apa yang menyebabkan penurunan harga minyak dunia tersebut? Apakah benar ini ada hubungannya dengan Trump? Sambil bersiap-siap memulai hari Anda, mari kita simak jawabannya hanya di #Kopipagi 10 Maret 2017.

IHSG pada perdagangan sore kemarin, ditutup menguat 0,16% ke level 5,402.39. Penguatan ini didorong oleh rilisnya data indeks kepercayaan konsumen Indonesia yang membaik, serta aksi asing yang melakukan capital inflow hingga Rp 156 miliar.

Sementara itu, potensi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini hampir mencapai angka 100%, jika rilis data Non-Farm Payroll (NFP) yang keluar nanti sesuai perkiraan. Dari bursa Amerika, Indeks Dow Jones pada perdagangan tadi malam bergerak stagnan, hanya menguat 0,01% ke level 20,858.19 diiringi dengan penguatan EIDO hingga 0,12% ke level 24,51.

Negara OPEC Vs Non-OPEC

Pada awalnya, Arab merupakan negara dengan produksi minyak terbesar di dunia. Harga minyak di sana bahkan hanya Rp 1.000/liter, sama murahnya dengan harga kerupuk di Indonesia! Tidak heran, jika di negara tersebut pendapatan terbesar berasal dari penjualan minyak.

Minyak mentah yang digunakan hampir di seluruh kegiatan sehari-hari, membuat harga minyak ini sangat penting untuk keberlangsungan industri suatu negara. Oleh karena itu, dibentuklah Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk mengatur harga minyak dunia. Lalu, kenapa negara-negara seperti Amerika dan Rusia menolak untuk bergabung dengan OPEC?

Seperti yang kita ketahui, Amerika merupakan negara industri dengan pendapatan utama mereka berasal dari sektor manufaktur yang memanfaatkan minyak sebagai kunci utama berjalannya industri mereka.

Selain itu, Amerika juga merupakan negara pengekspor alat transportasi terbesar dengan impor terbesar pada minyak mentah sebagai sumber energi utama di negara tersebut, jadi wajar saja Amerika menolak bergabung dengan OPEC yang mengharuskan mereka membatasi produksi minyak, padahal kebutuhan Amerika akan minyak sangat tinggi.

Lalu, bagaimana dengan Rusia? Rusia sendiri sebenarnya sudah beberapa kali mendapat tawaran untuk bergabung dengan OPEC, namun tawaran tersebut ditolak karena produksi minyak di Rusia semuanya dilakukan oleh perusahaan swasta, sehingga Rusia sendiri agak kesulitan mengatur tingkat produksi perusahaan swasta tersebut.

Lalu, apakah itu berarti negara-negara yang tergabung dengan OPEC menginginkan harga minyak naik, sedangkan negara non-OPEC seperti Amerika malah sebaliknya? Itu mungkin saja, karena bagi keseluruhan ekonomi Amerika Serikat, kondisi minyak yang menurun ini bagus, khususnya di kalangan konsumen yang bisa menghemat uang setiap kali mengisi BBM. Jika harga minyak mentah menyentuh US$ 40, maka harga bensin di sana akan menjadi US$ 1,80 per galon.

Berbeda halnya dengan negara anggota OPEC, yang rata-rata merupakan negara penghasil serta pemilik cadangan minyak terbesar di dunia. Selain itu, penghasilan utama negara ini juga dihasilkan dari penjualan minyak. Jadi, wajar saja jika negara-negara tersebut lebih menginginkan harga minyak yang semakin naik setiap tahunnya.

Hal ini pula yang menyebabkan tingginya tingkat fluktuasi minyak di dunia. Negara non-OPEC seperti Amerika yang menginginkan harga minyak turun untuk dapat menghemat biaya produksinya, sedangkan negara OPEC seperti Arab menginginkan harga minyak untuk terus naik demi mendapatkan keuntungan yang berlipat.

Penyebab Turunnya Harga Minyak

Nah, sekarang kembali ke inti permasalahannya, apa sih penyebab turunnya harga minyak? Penurunan harga ini utamanya disebabkan oleh kelebihan pasokan akibat revolusi energi di Amerika Utara (Amerika, Kanada dan Meksiko).

Di samping itu, demi menekan para pelaku industri baru dan mempertahankan pangsa pasar, organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) tetap mempertahankan tingkat volume produksi di akhir November lalu, tidak melakukan pembatasan produksi sama sekali. Akibatnya stok minyak di pasar global pun berhamburan dan hal itu otomatis menurunkan harga jual emas hitam tersebut.

Faktor lain adalah melemahnya permintaan minyak, terutama karena perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Sebelum ini, permintaan minyak dari Tiongkok meningkat pesat, namun sekarang pertumbuhannya hanya satu digit.

Secara global, permintaan minyak juga turun karena fakta bahwa Amerika Serikat dan negara-negara lain yang matang perkonomiannya telah menjadi sangat efisien dalam hal bahan bakar.

Namun, jika dilihat secara umum, sebenarnya ada 3 faktor utama penyebab turunnya harga minyak, di antaranya:

1. Pasokan berlebih
Amerika Serikat melakukan revolusi energi sehingga menyebabkan banjirnya pasokan minyak. Pada semester II tahun 2014, OPEC bukannya menyeimbangkan pasar, malah terus menggenjot produksi minyak. Kartel yang dipimpin oleh Arab Saudi itu takut kehilangan pangsa pasar dan terkalahkan oleh Amerika, Kanada, dan produsen minyak lainnya. Inilah penyebab harga minyak turun drastis.

Produksi minyak Amerika yang terus meningkat juga turut ambil bagian dalam penyebab lemahnya harga minyak ini. Produsen di sana secara agresif terus meningkatkan produksi. Banyak analis berpendapat harga minyak tidak akan kunjung stabil sampai ada perusahaan minyak di Amerika yang bangkrut atau melakukan merger.

Selain itu, kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara Barat beberapa waktu lalu juga diperkirakan bakal membuat minyak dari negara itu membanjiri pasar. Bahkan ada tanda kalau Iran sedang menimbun banyak minyak saat ini.

2. Permintaan menurun
Ekonomi global saat ini sedang mengalami penurunan. Penyebab utamanya datang dari negara China yang saat ini sedang mengalami perlambatan ekonomi dan membuat harga komoditas dunia menurun, termasuk minyak mentah.

Sementara itu, negara yang perekonomiannya membaik, seperti Amerika, sedang mengimplementasikan standar efisiensi agar permintaan minyak dapat dibatasi. Tingginya teknologi, serta sikap masyarakat yang sadar akan bahayanya penggunaan minyak, membuat permintaan minyak secara global menurun.

3. Kenaikan nilai dolar Amerika
Seperti harga komoditas lainnya, minyak pun dihargai dengan dolar Amerika. Akibatnya, ketika sekarang nilainya naik maka harganya pun demikian untuk di luar Amerika. Mata uang dolar ini telah naik tujuh persen pada tahun ini dibandingkan mata uang negara lainnya terutama akibat kebijakan dari Donald Trump serta The Fed yang mungkin akan menaikkan suku bunganya pada bulan ini.

Kebijakan China yang mendevaluasi nilai yuan semakin membuat tekanan ke harga minyak. Tingginya nilai dolar tersebut membuat permintaan akan minyak di pasar global semakin menurun.

Bagi Indonesia sendiri, akibat dari kenaikan minyak ini maka akan menguntungkan perusahaan produsen minyak di Indonesia seperti ELSA, BIPI, dan MEDC akan diuntungkan dari kenaikan tersebut.

Sedangkan saat turun, harga BBM serta produk minyak lainnya yang rendah akan menguntungkan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat dengan penghasilan menengah kebawah.

Sehingga kenaikan maupun penurunan minyak dunia tersebut seperti pedang bermata dua.

Pada saat ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April anjlok 5,4% selama beberapa hari ini, dan ditutup di angka US$ 50,28 per barrel di New York Mercantile Exchange.

Sedangkan Kamis, 9 Maret 2017 kemarin ditutup di level $49,52. Angka tersebut merupakan koreksi terbesar sejak 9 Februari 2016 sekaligus level penutupan terendah sejak 7 Desember 2016. Hal ini tentunya merupakan sentimen negatif, terkait perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan minyak seperti BIPI, ELSA dan MEDC.

Salam profit,
Ellen May (ang/ang)

Source : detik.com