The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Harga Minyak Naik Tipis

The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Harga Minyak Naik Tipis

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia menguat tipis pada penutupan perdagangan Rabu (3/5), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu keputusan bank sentral AS The Federal Reserves (The Fed) yang menahan suku bunga acuannya dan keyakinan bahwa laju inflasi AS bakal berada di level sama.

Dilansir dari Reuters, Kamis (3/5), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli naik US$0,23 menjadi US$73,36 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,68 menjadi US$67,93 per barel.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) meremehkan perlambatan ekonomi dan pertumbuhan lapangan kerja baru-baru ini. Pasalnya, aktivitas perekonomian diyakini tumbuh secara moderat dan pertambahan lapangan kerja telah cukup kuat dalam beberapa bulan terakhir.

Sebagai catatan, permintaan minyak terkait erat dengan indikator pertumbuhan ekonomi.

Di awal sesi perdagangan, pelaku pasar mengacuhkan kenaikan persediaan minyak mentah AS yang di luar dugaan. Pasalnya, kenaikan stok minyak mayoritas berasal dari area West Cost.

Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), stok minyak mentah AS meningkat sebesar 6,2 juta barel pekan lalu. Hampir lima juta barel di antaranya terkonsentrasi di area West Cost.

“Pasar tidak banyak bereaksi karena terkadang angka dari West Cost tak menentu, biasanya ketika ada peningkatan stok yang besar di West Cost, itu akan diikuti dengan penarikan stok besar pada pekan berikutnya,” ujar analis Price Futures Group Phil Flynn.

Di saat bersamaan, lanjut Flyn, permintaan minyak distilasi cukup kuat sehingga mampu melampaui tekanan ke bawah untuk harga minyak mentah.

Di sisi lain, AS mempertanyakan keseriusan Iran dalam mengimplementasikan kesepakatan pengurangan program nuklir.

Presiden AS Donald Trump telah mengancam bakal menjatuhkan sanksi kembali kepada Iran jika tidak ada penyesuaian yang dilakukan terhadap isi perjanjian.

Iran, salah satu anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), kembali menjadi ekportir minyak mentah utama dunia pada Januari 2016 pasca sejumlah sanksi internasional diangkat untuk mengkompensasi pengurangan program nuklir Iran.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zangeneh menyatakan, pada April lalu, ekspor minyak Iran menembus 2,6 juta barel per hari (bph), suatu rekor pencapaian setelah sanksi diangkat. China dan India membeli lebih dari separuh ekspor tersebut.

“Ekspektasi bahwa AS akan keluar dari kesepakatan pembebasan sanksi membuat Iran menjual (minyak) sebanyak mungkin,” ujar Analis Petromatrix Olivier Jakob.

Trump bakal mengambil keputusan terkait sanksi Iran pada 12 Mei 2018 mendatang. Jika AS kembali mengenakan sanksi kepada Iran, ekspor Iran terancam berkurang.

“Jika Trump meninggalkan kesepakatan, ia mengambil risiko akan terjadinya lonjakan pada harga minyak mentah global,” ujar Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen.

Hansen memperkirakan pengenaan sanksi AS terhadap Iran berisiko mengurangi pasokan minyak global sebesar 300 ribu hingga 50 ribu bph.

Kendati demikian, pelaku pasar meyakini penguatan kurs dolar AS yang terjadi sejak pertengahan April dan peningkatan pasokan AS telah menahan kenaikan harga minyak lebih jauh. (lav)

Source : cnnindonesia.com