Pertamina Resmi Ambil Alih Blok South East Sumatera (SES) dari CNOOC

Pertamina Resmi Ambil Alih Blok South East Sumatera (SES) dari CNOOCIlustrasi kilang lepas pantai.

Bisnis.com, PABELOKAN – Terhitung mulai 6 September 2018, PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE), resmi mengambil alih kelola 100% wilayah kerja (WK) Southeast Sumatra (SES) dari operator lama CNOOC SES Ltd.. Selanjutnya, WK SES dioperasikan oleh PHE Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES).

Seremoni alih kelola dilakukan di Pulau Pabelokan, Kabupaten Kepulauan Seribu, yang menjadi salah satu lokasi penting dalam operasi lepas pantai di WK SES pada Rabu malam (5/9/2018).

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu mengatakan, masuknya blok SES dalam portofolio Pertamina diharapkan dapat meningkatkan proporsi produksi migas Pertamina dalam portofolio produksi migas nasional.

Saat ini, proporsi produksi Pertamina terhadap produksi nasional meningkat dari 26% menjadi 35%.

“Dengan masuknya sejumlah alih kelola WK migas ke PHE termasuk WK SES ini, dibantu dengan dukungan dari para stakeholder, kami mencita-citakan produksi migas PHE secara keseluruhan dapat menembus lebih dari 200 ribu barel equivalent per hari di 2018 ini,” ujar Dharmawan di Pabelokan, Kepulauan Seribu, Rabu malam, (5/9/2018).

WK SES merupakan salah satu penghasil minyak dan gas bumi terbesar di Indonesia. Hingga Agustus 2018, tercatat produksi minyak dan gas bumi di WK SES mencapai 31.120 barel per hari (bph) dan 137,5 juta standard kaki kubik per hari (mmscfd).

Hasil produksi gas lapangan SES digunakan untuk pembangkit listrik milik PLN di Cilegon. Sedangkan produksi minyak dari WK SES sebelum alih kelola diekspor seluruhnya. Namun, setelah alih kelola oleh PHE OSES, seluruh produksi minyak akan diproses sepenuhnya di kilang-kilang Pertamina untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dalam negeri.

Untuk memastikan kelancaran alih kelola pascaterminasi, PHE telah melakukan kajian operasi dan Quality, Health, Safety, Security & Environment (QHSSE) serta beberapa kali melakukan kunjungan lapangan.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan, operator lama, CNOOC SES, telah menyelesaikan seluruh komitmen finansial sampai dengan pencadangan dana ASR (Abandonment Site Restoration) sebelum kontrak berakhir.

Amien juga cukup puas performa produksi Blok SES di bawah pengelolaan CNOOC selama ini selalu di atas target.

“Bahkan sampai dengan hari terakhir itu performance-nya di atas target. Ini menunjukkan bahwa CNOOC adalah prudent operator,dan tentunya personel-personel di dalam CNOOC adalah profesional yang patut diapresiasi tinggi,” kata Amien.

Adapun produksi Blok SES diperoleh dari 31 lapangan. SKK Migas mencatat selama 2 dekade produksi dari lapangan-lapangan Blok SES telah menghasilkan gross revenue mencapai US$22,87 miliar. Dari total tersebut sebesar 57% atau senilai US$13,13 miliar menjadi penerimaan negara.

Amien menyebutkan potensi migas di Blok SES masih menjanjikan dengan cadangan terbukti per 1 Januari 2017 sebesar 238 BCF gas dan 55 juta stok tank barel minyak.

Meski demikian, dia berharap operator baru dapat mencari potensi-potensi baru di wilayah kerja tersebut.

“Sesuai dengan PSC PHE Offshore SES telah menandatangani komitmen pasti sebesar US$130 juta, baik untuk kegiatan eksploitasi maupun eksplorasi. Komitmen ini akan dievaluasi kembali setelah 3 tahun dan diharapkan dapat menambah cadangan terbukti untuk meningkatkan produksi,” katanya.

Blok SES merupakan salah satu pioneer dalam kontrak bagi hasil (PSC) lepas pantai di Indonesia. Kontrak bagi hasil WK SES ditandatangani pertama kali pada 6 September 1968 atau kini telah berusia 50 tahun. Selama beroperasi, WK SES pernah mengalami masa puncak produksi pada Juli 1991 dengan produksi harian sebesar 244.340 bph.

Pada 20 April 2018, Pertamina mendapatkan penugasan pemerintah untuk mengelola 8 WK yang habis masa kontraknya di 2018. Seratus persen participating interest delapan blok tersebut, salah satunya WK SES diserahkan kepada Pertamina.

Dalam empat tahun terakhir, tercatat produksi di Blok SES stabil dan cenderung menurun dikisaran 31 ribu bph karena adanya natural decline.

PHE OSES telah menyiapkan sejumlah rencana kerja untuk menahan laju penurunan alamiah di lapangan SES melalui komitmen 3 tahun, antara lain Studi Geology, Geophysics, Reservoir and Production (GGRP), studi Enhanced Oil Recovery (EOR), Seismik, workover dan well services, field reactivation, pemboran infill, serta perawatan, inspeksi dan sertifikasi kehandalan fasilitas.

Selain itu, sebagai bagian dari penandatanganan PSC-Gross Split, kontraktor mendapatkan bagian split sebesar 68,5% untuk produksi minyak dan 73,5% untuk produksi gas bumi. Bagian split tersebut telah memperhitungkan base dan variable split berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No. 52 tahun 2017.

Source : bisnis.com