Perang Dagang Bayangi Penurunan Cadangan AS, Minyak Mentah Merosot

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah jatuh ke level terendah dalam hampir tujuh pekan terakhir pada perdagangan Rabu (8/8/2018) karena perselisihan perdagangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan China membayangi penurunan cadangan minyak mentah AS.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman September ditutup melemah 3,2% atau 2,23 poin ke level US$66,94 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Oktober turun 2,37 poin ke level US$72,28 di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Minyak mentah patokan global diperdagangkan dengan rentang US$6,03 lebih mahal dibanding WTI untuk kontrak bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, China akan memungut tarif 25% pada produk bensin, solar, dan barang-barang lainnya dari AS senilai miliaran dolar yang masuk ke China dalam beberapa pekan ke depan.

Sementara itu, data yang dirilis Energy Information Administration menunjukkan, persediaan minyak mentah turun 1,35 juta barel pekan lalu, jauh dari penurunan 3 juta barel yang diperkirakan oleh analis yang disurvei oleh Bloomberg. Adapun stok bensin meningkat 2,9 juta barel.

“Investor fokus pada masalah geopolitik yang dihadapi pasar saat ini, terutama tarif impor China pada bensin dan produk olahan lain, yang pasti dapat berdampak pada penetapan harga jangka pendek,” kata Adam Wise dari John Hancock Financial Services Inc., seperti dikutip Bloomberg.

“Kunci untuk pertumbuhan permintaan global di masa depan yang mendasari harga komoditas adalah China. Sejauh ada gejolak di sana, akan ada penurunan dalam pasar minyak mentah,” lanjutnya.

WTI telah diperdagangkan di bawah US$70 per barel bulan ini karena perselisihan AS-China kembali meningkat. Ketika sanksi AS mengisolasi Iran, ekspor oleh produsen ketiga terbesar OPEC tersebut jatuh. Iran lebih mengandalkan armada tanker sendiri untuk mengirim minyak ke pelanggan.

Source : bisnis.com