Penguatan Dolar AS Tekan Harga Minyak Dunia Pekan Lalu

Penguatan Dolar AS Tekan Harga Minyak Dunia Pekan LaluIlustrasi kilang minyak.

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak mentah dunia merosot sepanjang pekan lalu. Pelemahan antara lain dipicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS), pelemahan pasar modal, dan dampak Badai Tropis Gordon terhadap produksi minyak mentah di Pantai Teluk AS yang tak sebesar perkiraan.

Dilansir dari Reuters, Senin (10/9), harga minyak mentah berjangka Brent melemah sekitar 1,6 persen secara mingguan menjadi US$76,20 per barel pada Jumat (7/9).

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sekitar 3,5 persen menjadi US$67,28 per barel.

Di awal pekan, harga minyak sempat menanjak seiring kedatangan Badai Tropis Gordon yang menyebabkan penutupan fasilitas produksi minyak di Teluk Meksiko dan mengancam aktivitas kilang di Pantai Teluk AS.

Namun, seiring melemahnya terpaan badai dan pergerakan yang menjauhi area fasilitas produksi minyak, perusahaan energi kembali melanjutkan aktivitas operasi yang sempat terhenti.

Lihat juga:Pertamina: Belum Ada Rencana Kenaikan Harga BBM

Tekanan terhadap harga minyak juga berasal dari perkasanya dolar AS melawan sekeranjang mata uang lain. Penguatan dolar AS membuat harga komoditas yang diperdagangan dengan dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Pada Jumat lalu, dolar AS melesat setelah laporan pertumbuhan lapangan kerja AS yang menanjak sepanjang Agustus 2018. Selain itu, tingkat upah juga menunjukkan kenaikan tahunan tertinggi selama sembilan tahun terakhir.

Data lapangan kerja AS memicu kekhawatiran terhadap kemungkinan suku bunga acuan AS bakal dikerek lebih cepat dan menekan pasar modal. Indeks pasar saham Eropa Stoxx 600 menunjukkan performa mingguan terlemah sejak akhir Maret. Kemudian, indeks saham di pasar negara berkembang turun sekitar 3,2 persen.

Selain itu, menurut sejumlah analis, harga WTI juga masih dibebani oleh data stok minyak mentah dan produk kilang AS yang mengecewakan.

Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), stok minyak mentah AS pada pekan terakhir Agustus 2018 merosot 4,3 juta barel menjadi 401,49 juta barel atau terendah sejak Februari 2015.

Lihat juga:Harga Minyak Mentah Indonesia Turun US$1,33 per Barel Agustus

Namun, persedian produk kilang seperti bensin menanjak dan permintaan terhadap bahan bakar minyak tergolong lemah pada musim panas AS yang biasanya konsumsi bahan bakar mencapai puncaknya. Hal ini, menurut broker PVM Stephen Brennock, membuat ekspektasi kelebihan pasokan bensin yang akan terjadi dalam waktu dekat.

EIA mencatat persediaan bensin tercatat naik 1,8 juta barel. Sementara stok minyak distilasi bertambah 3,1 juta barel.

Sementara, pengenaan sanksi AS terhadap Iran, yang merupakan salah satu produsen utama minyak dunia, mendorong ekspektasi bahwa pasar minyak akan mengetat.

“Penggerak utama harga minyak, menurut pandangan kami, tetap pengenaan kembali sanksi AS terhadap konsumsi minyak Iran,” ujar Standard Chartered pekan lalu.

Gedung Putih telah memberikan sinyal bakal memberikan pengecualian pemberlakukan sanksi sementara untuk negara sekutu yang tidak dapat mengganti impor minyak dari AS dengan cepat. (agi)

Source : cnnindonesia.com