Pelni Sulit Optimalkan Kapasitas Tol Laut

Kapal Logistik Nusantara 4 yang melayani tol laut menurunkan kontainer muatannya saat bersandar di dermaga Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan.

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pelni (Persero) sulit mengoptimalkan kapasitas angkut kapal tol laut. Hingga tahun ketiga pelaksanaan program, muatan sukar didongkrak karena perubahan trayek.

Manajer PR dan CSR Pelni Idayu Adi Rahajeng mengatakan rute Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya-Paumako Timika-Agats Asmat hingga Merauke sebelumnya berkontribusi paling besar terhadap realisasi muatan tol laut Pelni.

Namun, sejak Februari 2018, rute yang semula dilayari oleh KM Caraka Jaya Niaga III-32 (kapasitas 115 kontainer TEU’s) itu dialihkan ke perusahaan pelayaran swasta dengan subsidi dari pemerintah.

“Pelni menjalani [rute Papua] hampir 3 tahun. Muatan balik juga sudah mulai tumbuh. Saat ini, tol laut Pelni tidak ada yang masuk Papua,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (26/7/2018).

Total kapasitas kapal tol laut Pelni sekitar 1.505 TEU’s. Namun, perusahaan pelayaran pelat merah itu enggan menyebutkan perkembangan realisasi muatan awal (berangkat) dan muatan balik kapal tol laut hingga semester I/2018.

Sebelumnya, perseroan menyebutkan realisasi muatan balik per akhir 2017 berkisar 10%-20% dari kapasitas angkut.

Pertumbuhan muatan balik, tutur Idayu, pada dasarnya membutuhkan waktu untuk sosialisasi dan membangkitkan ekonomi di daerah tujuan tol. Dengan perubahan rute, perusahaan harus membangun lagi komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha tujuan tol laut.

Sejak awal tahun ini, Pelni menggarap enam trayek tol laut, yakni T-4 (rute Tanjung Perak-Makassar-Tahuna) menggunakan KM Logistik Nusantara I, T-2 (Tanjung Priok-Tanjung Batu-Belinyu-Tarempa-Natuna-Midai-Serasan-Tanjung Priok) menggunakan KM Caraka Niaga Jaya III-4.

Selanjutnya, T-6 (Tanjung Perak-Tidore-Morotai-PP) menggunakan KM Caraka Jaya Niaga III-2, T-13 (Kalabahi-Moa-Rote-Sabu) menggunakan KM Logistik Nusantara 3, T-14 (Tanjung Perak-Lewoleba-Adonara/Tenong-Larantuka) menggunakan KM Logistik Nusantara 4, dan T-15 (Kisar-Namrole-PP) menggunakan KM Logistik Nusantara 2.

Pelni mengandalkan kantor-kantor cabang dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk menaikkan muatan balik dari daerah tujuan.

“Saat ini, Pelni aktif koordinasi dan sosialisasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda), Dinas Perdagangan, serta pengusaha daerah untuk menumbuhkan ekonomi dan diharapkan ada efek muatan balik,” terangnya.

Realisasi angkutan tol laut 2017 terbilang rendah, yakni hanya 212.865 ton atau 41,2% dari target 517.200 ton. Adapun realisasi muatan balik hanya 20.274 ton atau 9,5% dari muatan berangkat.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan target muatan balik tahun ini sebesar 30% dengan pola operasi pengumpan dan pengumpul atau hub and spoke yang diharapkan bisa merangsang arus kargo dari Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Untuk memenuhi target itu, pemerintah menggelontorkan subsidi hingga Rp447,6 miliar tahun ini, naik 33% dari alokasi subsidi 2017.

Source : bisnis.com