Pelemahan Ekonomi Global Tekan Harga Minyak Pekan Lalu

Pelemahan Ekonomi Global Tekan Harga Minyak Pekan Lalu

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia merosot sepanjang pekan lalu, dipicu kekhawatiran terhadap pelemahan ekonomi global yang akan menekan permintaan minyak mentah.

Dilansir dari Reuters, Senin (8/7), harga minyak mentah berjangka Brent secara mingguan melemah 3,3 persen menjadi US$64,23 per barel pada perdagangan Jumat (5/7).

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) yang turun sekitar 1,8 persen menjadi US$57,51 per barel.

Pesanan sektor industri Jerman pada Mei 2019 lalu merosot jauh melampaui perkiraan. Kementerian Perekonomian Jerman menyatakan sektor penopang terbesar perekonomian Eropa ini kemungkinan akan tetap lemah dalam beberapa bulan ke depan.

Lihat juga:Pelemahan Penurunan Cadangan AS Tekan Harga Minyak Dunia

Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan AS mencatat bulan lalu terdapat tambahan 220 ribu lapangan kerja bagi pekerja nonpertanian. Tambahan tersebut merupakan yang terbanyak dalam lima bulan terakhir.

Kendati demikian, pemerintah AS juga mencatat pesanan baru untuk produk manufaktur AS turun pada Mei 2019 lalu. Penurunan yang terjadi selama dua bulan berturut-turut ini memicu kekhawatiran terhadap perekonomian global.

Perang dagang AS-China juga telah menekan prospek pertumbuhan ekonomi global dan permintaan minyak. Namun kedua negara sepakat untuk kembali menggelar negosiasi dagang pekan ini untuk memecah kebuntuan dari hasil negosiasi sebelumnya.

“Kompleks energi tetap menjaga kesan tertekan yang telah dirasakan pada awal pekan ini dengan menumpuknya ekspektasi perlambatan ekonomi global yang akan berdampak pada permintaan minyak,” ujar Pimpinan Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Lihat juga:Maskapai Saudi Kesampingkan Boeing Max Demi Pesan Airbus

Pada Rabu (3/7) lalu, Badan Administrasi Informasi Energi AS melaporkan penurunan persediaan minyak mentah pada pekan sebelumnya sebesar 1,1 juta barel. Penurunan tersebut lebih kecil dari prediksi sejumlah analis. Realisasi tersebut juga lebih rendah dari laporan yang dirilis Institut Perminyakan Amerika (API) yang memperkiraan stok minyak mentah AS turun 5 juta barel.

Sementara itu, harga minyak dunia masih mendapatkan dorongan dari kebijakan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, untuk memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksinya.

Memanasnya tensi di Timur Tengah juga memberikan dorongan pada harga minyak dunia, khususnya Brent.

“Harga Brent memasukkan lebih banyak risiko geopolitik dibandingkan WTI,” ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Source : cnnindonesia.com