OPEC Sepakat Tingkatkan Produksi, Harga Minyak Dunia Turun

ilustrasi harga minyak

VIENNA, KOMPAS.com – Harga minyak mentah turun pada Senin (25/6/2018) waktu setempat selepas Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi ( OPEC) dan negara produsen minyak lain sepakat untuk meningkatkan produksi minyak secara bertahap setelah sempat memotong jumlah produksi selama hampir 2 tahun belakangan ini.
Pada perdagangan Senin, Brent, sebagai patokan harga minyak dunia, jatuh 1,8 persen menjadi 74,15 dollar AS per barrel. Sementara harga perdagangan West Texas Intermediate turun 0,5 persen menjadi 68,95 dollar AS per barrel.
Pada pertemuan di Vienna, Austria pada akhir pekan lalu, OPEC sepakat untuk mengurangi jumlah pemotongan produksi yang sebelumnya mencapai 150 persen pada bulan Mei lalu menjadi 100 persen di awal Juli mendatang.
Sebelumnya, Arab Saudi sempat mengumumkan akan meningkatkan produksi minyak hingga 1 juta barrel per hari. Namun, analis mengatakan, jumlah yang akan terealisasi akan lebih kecil karena adanya gangguan produksi di beberapa negara lain.
Analis dari Jeffries Jason Gammel mengatakan, kesepakatan yang baru akan memutuskan untuk menambahkan hasil produksi sejumlah 700.000 barrel per hari. Menurut dia, Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab dan Kuwait akan menambahkan suplai kepada pasar dalam jumlah yang cukup besar pada kuartal ke 3 tahun ini.
“Kami pikir produsen tidak mungkin membanjiri pasar dan membuat harga minyak anjlok, namun pada saat yang bersamaan harga yang terlampau tinggi akibat permintaan serta temperamen dari Presiden As nampaknya menimbulkan dampak yang tidak menyenangkan bagi kelompok ini (OPEC),” ujar Gammel, dikutip melalui BusinessInsider, Selasa (26/6/2018).
Pemerintah AS sebelumnya sempat meminta negara-negara yang memotong produksi minyak untuk mengembalikan produksi menjadi 1 juta barrel per hari. OPEC pun menolak permintaan tersebut, namun Presiden Trump secara terbuka sempat mengecam OPEC dan mengatakan harga minyak saat ini terlalu tinggi.
Di sisi lain, ekonom Capital Economics Thomas Pugh mengatakan, pernyataan Saudi untuk meningkatkan produksi hingga 1 juta barrel bisa saja terealisasi. Dirinya memprediksi akan terjadi peningkatan produksi minyak cukup tajam pada beberapa bulan mendatang.
“OPEC sempat mengalami kesulitan untuk mengawasi kuota (produksi minyak) kelompok di masa lalu, sehingga ada risiko produksi melampaui target,” kata Pugh. Meskipun, Pugh menekankan risiko dari anjloknya produksi minyak di beberapa negara seperti Venezuela akibat dari krisis ekonomi yang melanda negara tersebut.

Source : kompas.com