Harga Minyak Turun di tengah Perang Dagang dan Pertemuan OPEC

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah turun pada akhir perdagangan Selasa (19/6/2018), seiring meningkatnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang membebani prospek permintaan energi saat OPEC dan sejumlah produsen minyak bergerak menuju peningkatan produksi.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli 2018 berakhir di level US$65,07 per barel di New York Mercantile Exchange, meski kemudian sedikit beringsut ke posisi 65,14 per barel pada pukul 4.39 sore waktu setempat.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus turun 26 sen dan berakhir di US$75,08 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$10,18 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Harga minyak AS hampir tidak beranjak dari level penutupan perdagangan Selasa meskipun American Petroleum Institute (API) dikabarkan melaporkan penurunan cadangan minyak mentah di AS pada pekan lalu, sementara pasokan bensin naik lebih tinggi.

API dikabarkan melaporkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 3,02 juta barel pekan lalu, sedangkan pasokan bensin naik 2,11 juta barel. Stok minyak mentah AS diperkirakan turun 2,5 juta barel pekan lalu, menurut survei Bloomberg menjelang rilis data Energy Information Administration (EIA) hari ini, Rabu (20/6/2018) waktu setempat.

Isu dalam sesi perdagangan kemarin lebih didominasi oleh China yang berjanji akan melakukan pembalasan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif impor pada barang-barang China senilai US$200 miliar. Kesuraman pun menyebar ke pasar ekuitas di AS pada khususnya.

Sementara itu, Arab Saudi dan Rusia mendorong 22 negara penghasil minyak utama lainnya untuk melonggarkan batas-batas produksi mereka ketika kelompok itu berkumpul pekan ini.

“Pasar [minyak] berada dalam pola bertahan menunggu keputusan OPEC dan berkaitan sangat erat ke pasar saham yang sedang mengalami pelemahan,” kata Thomas Finlon, direktur Energy Analytics Group LLC di Wellington, Florida, seperti dikutip Bloomberg.

Pertemuan pekan ini oleh OPEC dan sejumlah aliansinya di Wina mungkin menjadi salah satu yang paling diperdebatkan baru-baru ini.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mendukung peningkatan sebesar 1,5 juta barel dalam produksi harian kolektif, sementara Iran, Irak, dan Venezuela berpendapat terlalu dini untuk mundur dari upaya pembatasan produksi bersejarah yang telah membantu mengikis kelebihan global.

Iran menolak potensi kompromi di OPEC, dengan menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mendukung, bahkan sedikit pun, peningkatan produksi minyak ketika kelompok ini bertemu pada hari Jumat (22/6/2018).

Tingkat ukuran volatilitas pasar minyak naik ke level tertinggi dalam tiga pekan.

Di lain pihak, Trump mengisyaratkan skeptisisme bahwa diskusi dengan China akan mengakhiri perselisihan. Pada Senin malam (18/6/2018) waktu setempat, Trump memerintahkan identifikasi atas barang-barang China senilai US$200 miliar untuk tarif impor tambahan sebesar 10%.

“Kita tampaknya mendapat beban lagi dari isu yang dibangkitkan dalam perang perdagangan AS-China,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC. “Dan tentu saja menjelang pertemuan OPEC, dengan Rusia yang menegaskan kembali bahwa mereka menginginkan peningkatan besar.”

Source : bisnis.com