Harga Minyak Pecah Rekor Dalam Setahun Terakhir

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan akhir pekan, Jumat (12/2), waktu AS, ditopang harapan pasar terhadap stimulus fiskal Joe Biden.Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan akhir pekan, Jumat (12/2), waktu AS, ditopang harapan pasar terhadap stimulus fiskal Joe Biden. Ilustrasi kilang minyak.

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 2 persen pada akhir perdagangan Jumat (12/2) waktu AS. Harga minyak mentah menembus level tertingginya dalam satu tahun terakhir.

Mengutip Antara, Senin (15/2), penguatan harga minyak didorong harapan pasar terhadap stimulus fiskal AS. Stimulus tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi, sehingga permintaan bahan bakar meningkat.

Tercatat, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik US$1,29 atau 2,1 persen menjadi US$62,43 per barel.

Lalu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik US$1,23 atau 2,1 persen ke level US$59,47 per barel.

Jika diakumulasi, harga minyak mentah AS WTI naik 4,7 persen selama satu pekan terakhir. Sementara, minyak Brent naik 5,3 persen sepanjang pekan lalu.

Diketahui, Presiden AS Joe Biden akan bertemu dengan para walikota dan gubernur untuk membahas stimulus AS sebesar US$1,9 triliun. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membantu jutaan pekerja yang menganggur.

Lihat juga:Kecurigaan Ahok dan Pentingnya Pertamina Evaluasi Impor LNG

“Harapan stimulus AS dan kemajuan vaksin corona yang sedang berlangsung kemungkinan akan mempertahankan selera pasar terhadap aset-aset berisiko dalam menawarkan dukungan ke pasar minyak,” ujar Analis Capital Economics dalam sebuah riset.

Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan ekspektasi permintaan minyak global sebesar 110 ribu barel per hari menjadi 5,79 juta barel per hari. Badan Energi Internasional (IEA) juga melihat pasokan minyak masih melebihi permintaan global.

“Laporan IEA melukiskan gambaran yang lebih pesimis daripada yang diperkirakan pelaku pasar ketika harga tinggi saat ini,” kata Commerzbank.

Source : cnnindonesia.com