Dolar AS Menguat, Harga Minyak Turun Pagi Ini

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia bergerak terkoreksi di zona merah mengawali perdagangan pekan ini, Senin (2/7/2018).

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Agustus 2018 melemah 0,9% atau 0,67 poin ke level US$73,48 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 08.44 WIB.

Adapun minyak Brent untuk kontrak September 2018 turun 0,67 poin atau 0,85% ke level US$78,56 per barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London.

Padahal, pada akhir perdagangan Jumat (29/6) waktu setempat, harga minyak mampu terus menguat menyusul data yang menunjukkan adanya penurunan jumlah rig pengeboran aktif di AS pada pekan lalu.

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2018, naik 0,7 poin dan berakhir di US$74,15 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan internasional, minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus 2018, meningkat 1,59 poin dan berakhir di level US$79,44 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang minyak AS turun 4 unit menjadi total 858 unit oada pekan lalu. Hal ini disampaikan oleh perusahaan jasa ladang minyak Baker Hughes dalam laporan mingguannya pada Jumat (29/6).

Penguatan harga minyak pada pekan lalu juga ditopang kekhawatiran bahwa sanksi AS terhadap Iran akan mengurangi volume minyak mentah dengan jumlah signifikan dari pasar dunia saat permintaan minyak di seluruh dunia meningkat.

Selain itu, dolar AS yang lebih lemah juga membuat sejumlah komoditas yang dihargakan dalam mata uang itu lebih menarik bagi para pemegang mata uang lainnya.

Namun, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama pagi ini terpantau bergerak di zona hijau dengan kenaikan 0,25% ke level 94,709 pada pukul 09.48 WIB.

Dilansir dari Reuters, Senin (2/7), harga minyak juga terbebani cuitan Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (30/6) waktu setempat bahwa Arab Saudi telah setuju untuk meningkatkan produksi minyak kemungkinan hingga 2 juta barel.

Komentarnya diperlunak pihak Gedung Putih bahwa Raja Salman mengatakan negaranya dapat meningkatkan produksi minyak jika diperlukan.

Meski demikian, penurunan harga cenderung moderat pagi ini, mengingat reli minyak mentah AS sebesar lebih dari 8% pekan lalu, sedangkan Brent menguat lebih dari 5%.

Source : bisnis.com