Sentimen Minyak AS, Harga Minyak Dunia Naik Hampir 2 Persen

Sentimen Minyak AS, Harga Minyak Dunia Naik Hampir 2 Persen

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia terkerek hampir 2 persen pada perdagangan Rabu (28/8), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi menyusul stok minyak AS menurun dari perkiraan, meski permintaan berpotensi melemah akibat perang dagang AS-China.

Dilansir dari Reuters, Kamis (29/8), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$0,98 atau 1,7 persen menjadi US$60,49 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,85 atau 1,6 persen menjadi US$55,78 per barel.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah AS turun 10 juta barel pada pekan lalu. Penurunan tersebut melampaui perkiraan analis yang memproyeksikan penurunan hanya 2,1 juta barel.

“Banyak angka meningkat, tapi ini karena angka impor yang cukup memuaskan,” ujar Direktur Energi Berjangka Mizuho Bob Yawger di New York seperti dikutip dari Reuters.

Lihat juga:BI Ramal Rupiah Menguat ke Rp13.900 per Dolar AS pada 2020

Volume impor bersih minyak mentah AS turun sebesar 1,51 juta barel per hari (bph) menjadi 2,9 juta barel. Sementara itu, impor di kawasan Pantai Teluk merosot ke level terendah dalam sejarah menjadi 1,2 juta bph. Selama empat pekan terakhir, rata-rata impor minyak mentah AS sebesar 7 juta bph atau turun 12,3 persen dibandingkan periode sebelumnya tahun lalu.

Selanjutnya, stok bensin negeri Paman Sam juga merosot 2,1 juta barel atau lebih besar dari proyeksi penurunan analis yang sebesar 388 ribu barel.

“Ini merupakan laporan mengesankan yang mengerek harga, salah satu yang paling menaikkan harga selama beberapa waktu terakhir ialah penurunan minyak mentah karena dipicu oleh penurunan dari sisi impor,” ujar Partner Again Capital John Kilduff di New York.

Menurut Kilduff, penurunan impor kemungkinan terjadi akibat merosotnya ekspor minyak mentah Arab Saudi ke AS.

Lihat juga:SKK Migas Sebut Kemampuan Lifting di Bawah Target RAPBN 2020

Selain itu, kekhawatiran mengenai dampak perang dagang AS-China terhadap permintaan membatasi kenaikan harga minyak lebih jauh.

Pada Senin (26/8), Presiden AS Donald Trump mengungkapkan keyakinan bahwa ia serius mencapai kesepakatan dagang bersama dengan China. Sementar itua, Wakil Perdana Menteri China Liu He menyatakan China ingin menyelesaikan sengketa yang ada melalui negosiasi yang tenang.

Kendati demikian, pada Selasa (27/8), kekhawatiran kembali mengemuka setelah Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China menyatakan belum mendengar ada pembicaraan melalui telepon baru-baru ini antara kedua negara terkait perdagangan. Kemlu China berharap AS menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk keduanya berbicara.

Sebagai catatan, harga minyak mentah di China telah merosot sekitar 20 persen dari level tertingginya tahun ini yang dicapai pada April lalu. Hal itu sebagian disebabkan oleh kekhawatiran akan perang dagang yang menekan perekonomian global dan dapat menggerus permintaan minyak.

Pada Rabu (28/8) kemarin, Morgan Stanley memangkas proyeksi harga minyak. Untuk Brent, proyeksi harga hingga akhir tahun turun dari sebelumnya US$65 per barel menjadi US$60 per barel. Sementara itu, untuk WTI turun dari US$58 per barel menjadi US$55 per barel seiring penurunan proyeksi permintaannya pada 2019 dan 2020.

Source : cnnindonesia.com