Pasokan di AS Membludak, Harga Minyak Dunia Tertekan

Pasokan di AS Membludak, Harga Minyak Dunia Tertekan

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak mentah dunia merosot pada perdagangan Kamis (2/5), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan disebabkan oleh kekhawatiran pasar terhadap membanjirnya pasokan, terutama minyak mentah dari AS.

Tak hanya itu, sentimen lain juga berasal dari dampak pengetatan sanksi AS terhadap Iran secara bertahap.

Dilansir dari Reuters, Jumat (3/5), harga minyak mentah berjangka AS merosot US$1,79 atau 2,8 persen menjadi US$61,81 per barel. Kondisi ini membuat penurunan harga WTI sepanjang pekan ini diperkirakan bakal menjadi yang terbesar sejak Februari 2019.

Harga minyak mentah Brent juga melemah US$1,43 atau 2 persen menjadi US$70,75 per barel.

Lihat juga:Shell Untung Rp84 Triliun pada Tiga Bulan Pertama 2019

Analis mengungkapkan sentimen penurunan harga di pasar terjadi akibat dampak kebijakan AS terhadap Iran tak secepat yang semula ditakutkan berbagai pihak.

Pekan ini, sanksi AS terhadap Iran mengalami peningkatan seiring pemerintahan Presiden Donald Trump yang ingin menghentikan pengecualian penjualan minyak Iran terhadap 8 negara, termasuk China dan Turki.

Pemberlakuan pengecualian tersebut sebelumnya memungkinkan negara-negara tersebut tetap mengimpor minyak dari Iran. Namun, penghapusan pengecualian ternyata tak segera membuat pasar kekurangan pasokan.

“Pasar tak merasakan China dan Turki berhenti (mengimpor minyak dari Iran) sepenuhnya,” ujar Partner Again Capital Management John Kilduff di New York.

Lihat juga:Awal Mei Harga Minyak Bergerak Landai

Menurut Kilduff, saat ini, muncul kemarahan di pasar. China telah mengajukan keluhan kepada AS terkait pengenaan sanksi terhadap Iran. Di saat bersamaan, Turki menyatakan tidak bisa segera mengganti impor minyak dari Iran.

Tak ayal, keduanya meminta AS untuk mengevaluasi pengetatan kebijakan sanksi yang dilakukan.

Sebelumnya, harga minyak ditopang oleh krisis politik di Venezuela, pengetatan pemberlakuan sanksi AS terhadap Iran, serta kebijakan pemangkasan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Namun, sentimen penguatan harga yang tersisa juga tergerus oleh tingginya persediaan minyak mentah AS yang mengindikasikan pasokan pasar mencukupi.

Lihat juga:Pertamina Klaim Biaya Impor Minyak Turun Rp20 Triliun

Mengutip data Genscape, para trader mengungkapkan persediaan di hub pengiriman minyak mentah AS di Cushing, Oklahoma, diperkirakan menanjak 1,95 juta barel pada periode 26 hingga 30 April 2019.

Pekan lalu, berdasarkan data pemerintah AS, persediaan minyak mentah AS menanjak 9,9 juta barel menjadi 470,6 juta barel, tertinggi sejak September 2017. Peningkatan tersebut terjadi seiring level produksi yang menembus level 12,3 juta barel per hari (bph).

“Kondisi ini seiring kilang-kilang AS yang menuju periode perawatan musim semi sehingga meningkatkan ketakutan akan permintaan yang bakal melemah dan stok minyak yang akan terus menanjak,” ujar Bank ANZ dalam catatannya.

Meski banyak negara anggota OPEC ingin melanjutkan kebijakan pemangkasan pasokan minyak, kelompok karter tersebut secara bertahan akan terdesak untuk memenuhi permintaan pasar. Hal itu seiring terjadi kenaikan harga minyak lebih dari 30 persen sepanjang tahun ini.

Source : cnnindonesia.com