Harga Minyak Terbang Hingga 7 Persen Akibat Janji Arab

Harga minyak dunia melesat hingga 7 persen pada sepekan kemarin karena terangkat oleh janji Arab Saudi memangkas produksi. Harga minyak dunia melesat hingga 7 persen sepanjang sepekan kemarin akibat tertopang kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan Arab Saudi.

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak mentah dunia naik hingga 8 persen sepanjang pekan lalu karena didukung janji pemangkasan produksi dari Arab Saudi. Harga minyak juga ditopang peningkatan keuntungan di pasar saham.

Melansir Reuters pada Senin (11/1), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret melejit US$1,61 atau 3 persen menjadi US$55,99 per barel di London ICE Futures Exchange pada akhir pekan lalu. Secara total, harga minyak Brent melonjak 8 persen sepanjang pekan lalu.

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,41 atau 2,8 persen menjadi US$52,24 per barel di New York Mercantile Exchange. Secara kumulatif, harga minyak WTI meningkat 7,7 persen pada periode yang sama.

Lihat juga:Mengenal Saham sebagai Instrumen Investasi

Kenaikan harga minyak dunia ditopang oleh janji Arab Saudi untuk memangkas produksi tambahan secara sukarela mencapai 1 juta barel per hari (bph) pada Februari-Maret 2021. Padahal, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) ditambah Rusia atau dikenal dengan OPEC+ akan mempertahankan tingkat produksi selama penguncian wilayah (lockdown).

Keputusan Arab ini tidak sejalan dengan negara-negara OPEC+ lain yang justru ingin menahan produksi untuk mencegah perusahaan minyak AS mengambil pangsa pasar. Namun, OPEC+ akhirnya setuju untuk meningkatkan produksi minyak dari negara-negara OPEC+, sementara Arab membatasi produksi mereka.

“Minggu ini Arab Saudi melangkah untuk mencoba mengambil alih pasar dan mengambil alih kepemilikan untuk mendapatkan harga stabil. Sepertinya mereka menjalankan misi lagi untuk menaikkan harga kembali,” kata analis Again Capital LLC di New York John Kilduff, dikutip Senin (11/1).

Di sisi lain, data perusahaan jasa energi Baker Hughes Co mencatat jumlah rig minyak AS naik delapan menjadi 275 dalam tujuh minggu berturut-turut. Ini merupakan level tertinggi sejak Mei 2020.

Kendati begitu, para analis memperkirakan harga minyak dunia berpotensi terkoreksi pada beberapa bulan mendatang karena permintaan terbatas di tengah pandemi virus corona atau covid-19. Hal ini karena sejumlah negara kembali menerapkan lockdown di tengah peningkatan kasus covid-19.

AS sempat mencatat rekor kematian tertinggi mencapai 4.000 orang pada pekan lalu. China juga melaporkan ada kenaikan terbesar kasus harian dalam lima bulan terakhir dan Jepang kini tengah memperpanjang status masa darurat di luar Tokoyo.

Selain itu, ada sentimen pergerakan harga minyak dunia dari pasar saham. Indeks Nikkei 225 di Jepang dan bursa AS baru saja mencetak rekor karena ekspektasi investor meningkat di tengah pandemi.

Source : cnnindonesia.com